JATAM Mendorong Pemerintah Ambil Tindakan Lindungi Warga Palu dari Polusi Udara Meningkat

Kota Palu kini menghadapi tantangan serius terkait kualitas udara yang semakin memburuk. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sulawesi Tengah mengajukan permohonan mendesak kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah perlindungan kesehatan bagi masyarakat setempat. Dengan kondisi polusi udara yang semakin meningkat, perhatian terhadap kesehatan publik menjadi hal yang sangat penting.
Pentingnya Perlindungan Kesehatan di Tengah Polusi Udara Palu
Koordinator JATAM Sulteng, Moh. Taufik, menekankan bahwa langkah perlindungan kesehatan harus menjadi prioritas utama pemerintah. Saat ini, kualitas udara di Palu telah mencapai kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, yang sangat berbahaya bagi kelompok-kelompok masyarakat yang rentan.
“Pemerintah wajib menyediakan perlindungan kesehatan, termasuk memberikan informasi awal, akses masker, layanan kesehatan, dan langkah-langkah darurat bagi kelompok rentan saat kualitas udara mencapai kategori tidak sehat,” ungkap Taufik di Palu pada Selasa, 6 Oktober.
Penyebab dan Dampak Kualitas Udara yang Buruk
Kondisi kualitas udara yang memburuk di Palu tidak dapat dianggap sepele atau hanya disebabkan oleh faktor cuaca dan musiman. Menurut Taufik, dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat sangat nyata dan perlu diwaspadai.
Kelompok yang paling membutuhkan perhatian khusus meliputi:
- Anak-anak
- Orang lanjut usia
- Ibu hamil
- Pekerja yang beraktivitas di luar ruangan
- Kelompok rentan lainnya
Data dan Tren Polusi Udara di Palu
JATAM Sulteng mengacu pada data dari Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, yang dikelola oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data tersebut menunjukkan adanya tren penurunan kualitas udara di Palu sejak awal September 2026.
Pada tanggal 2 September, konsentrasi PM10 tercatat mencapai 106 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM2,5 mencapai 110 mikrogram per meter kubik, yang jelas masuk dalam kategori tidak sehat.
Kondisi Meningkatnya Polusi pada Bulan Oktober
Dalam beberapa minggu setelahnya, situasi semakin memburuk. Pada tanggal 4 Oktober, konsentrasi PM2,5 meningkat menjadi 132 mikrogram per meter kubik dan melampaui angka 200 mikrogram per meter kubik pada tanggal 5 Oktober. Pada waktu yang sama, konsentrasi PM10 juga melonjak hingga 210 mikrogram per meter kubik.
Tanggung Jawab Pemerintah dalam Menangani Polusi Udara
Taufik menegaskan bahwa pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Pemerintah Kota Palu memiliki tanggung jawab untuk melindungi keselamatan dan kesehatan masyarakat di tengah kondisi ini. Langkah perlindungan yang diambil tidak seharusnya hanya berupa imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, tetapi juga harus mencakup penyediaan informasi yang mudah diakses mengenai kualitas udara dan langkah-langkah perlindungan konkret bagi masyarakat yang terdampak.
“Negara tidak boleh bersikap pasif. Hak untuk hidup sehat adalah hak setiap warga negara, dan penyediaan udara bersih adalah tanggung jawab negara,” tegasnya.
Peningkatan Kesiapsiagaan Layanan Kesehatan
JATAM Sulteng juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan selama kondisi kualitas udara yang buruk. Informasi mengenai keadaan udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan harus disampaikan dengan cepat agar masyarakat dapat mengambil langkah-langkah perlindungan yang diperlukan.
Penegakan Hukum terhadap Pembakar Hutan dan Lahan
Di samping isu kesehatan, JATAM juga meminta pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelaku kebakaran hutan dan lahan. Hal ini termasuk korporasi yang terbukti terlibat dalam tindakan tersebut, serta melakukan pemulihan terhadap kawasan yang terbakar dan mengalami degradasi.
Faktor Alam dan Polusi Udara di Palu
Taufik menambahkan bahwa penurunan kualitas udara tidak dapat sepenuhnya diatribusikan kepada faktor alam seperti fenomena El Nino. Berdasarkan informasi dari BMKG, sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Morowali, Tojo Una-Una, dan Papua Selatan juga berkontribusi terhadap kualitas udara yang buruk di Palu.
Dalam menghadapi polusi udara yang semakin meningkat, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan sangatlah penting. Dengan langkah-langkah yang tepat dan tindakan tegas, diharapkan kualitas udara di Palu dapat segera membaik dan kesehatan masyarakat terlindungi.
➡️ Baca Juga: Timnas 3×3 Putri Uji Coba di Women’s Series Manila Menuju Asian Games 2023
➡️ Baca Juga: UNJ Masuk Peringkat 300 Universitas Terbaik Dunia Menuju Kelas Dunia




