Polri Selenggarakan Trauma Healing untuk Anak Pengungsi Pascagempa Manggarai

Ketika bencana alam melanda, dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban. Gempa bumi yang terjadi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini telah meninggalkan jejak trauma yang mendalam bagi para pengungsi, khususnya anak-anak. Untuk membantu mereka mengatasi rasa takut dan cemas, Satuan Tugas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan program pemulihan trauma (trauma healing) yang bertujuan untuk memulihkan kondisi mental dan emosional mereka.
Program Trauma Healing untuk Anak Pengungsi
Pada hari Minggu yang lalu, kegiatan trauma healing tersebut dilaksanakan di Posko Pengungsian Barangkolong, Desa Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Menghadapi situasi pascabencana, anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar bantuan fisik; mereka membutuhkan dukungan emosional yang dapat mengembalikan semangat hidup mereka. Komandan Satgas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT, Kombes Pol. Hasripuddin, menekankan pentingnya pemulihan psikologis bagi anak-anak yang terdampak bencana ini.
Pentingnya Dukungan Psikologis
Menurut Hasripuddin, anak-anak yang mengalami bencana sering kali merasakan ketidakpastian dan ketakutan yang mendalam. Dalam pernyataannya, ia mengatakan, “Pascabencana, anak-anak membutuhkan perhatian dan pendampingan agar tetap memiliki semangat serta kembali merasa aman. Melalui kegiatan trauma healing ini, kami berupaya menghadirkan suasana yang menyenangkan sekaligus memberikan edukasi dan motivasi.”
Dengan pendekatan yang menyenangkan, diharapkan anak-anak dapat lebih mudah beradaptasi dan kembali merasakan kebahagiaan. Program ini dirancang untuk membantu mereka mengatasi trauma dan memulihkan rasa percaya diri.
Proses Pemulihan yang Holistik
Penanganan pascabencana tidak dapat dipisahkan dari aspek mental dan emosional para korban. Hasripuddin menegaskan bahwa fokus kepolisian tidak hanya pada evakuasi dan bantuan fisik, tetapi juga pada pemulihan mental bagi anak-anak di tempat pengungsian. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana harus bersifat holistik, mencakup semua aspek kehidupan para pengungsi.
Kegiatan Interaktif yang Menarik
Rangkaian kegiatan trauma healing ini disambut antusias oleh anak-anak dan orang tua mereka. Kegiatan yang dipandu oleh tim dari Korps Brimob Polri ini mencakup berbagai sesi pendampingan interaktif yang dirancang untuk menghibur dan mendidik para peserta.
- Penyampaian cerita yang menginspirasi
- Permainan edukatif yang mengasah kreativitas
- Diskusi grup untuk berbagi pengalaman
- Sesi relaksasi dan mindfulness
- Aktivitas seni sebagai bentuk ekspresi
Anak-anak yang sebelumnya tampak cemas dan gelisah, kini mulai menunjukkan senyum dan semangat baru. Ini adalah bagian penting dari proses pemulihan mereka.
Keterlibatan Tim Profesional
Kegiatan trauma healing dimulai pada pukul 09.00 WITA dan dipimpin oleh Komandan Kompi Satgas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT, AKP Roy Ronaldo Dansu. Sebanyak 10 personel dikerahkan untuk memberikan pendampingan edukatif dan motivatif kepada anak-anak pengungsi. Dengan keahlian dan pengalaman mereka, tim ini berkomitmen untuk mendampingi anak-anak dalam proses pemulihan mereka.
Sinergi dalam Pelayanan kepada Masyarakat
Hasripuddin menekankan bahwa melihat anak-anak kembali tersenyum dan bersemangat adalah hal yang sangat berarti. “Kami akan terus bersinergi memberikan pelayanan serta pendampingan bagi masyarakat yang terdampak,” ujarnya. Hal ini menunjukkan komitmen kepolisian tidak hanya dalam penanganan bencana tetapi juga dalam membangun kembali kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Melalui kegiatan trauma healing ini, diharapkan anak-anak dapat merasa lebih aman dan nyaman, serta mampu menghadapi tantangan yang ada di depan mereka. Program ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Peran Keluarga dan Masyarakat
Selain dukungan dari pihak kepolisian, peran keluarga dan masyarakat juga sangat penting dalam pemulihan trauma anak-anak pengungsi. Keluarga harus diikutsertakan dalam proses ini agar mereka dapat memberikan dukungan emosional yang berkelanjutan. Masyarakat setempat juga dapat berperan dengan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak-anak.
Strategi untuk Memfasilitasi Pemulihan
Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh keluarga dan masyarakat untuk membantu anak-anak dalam proses pemulihan:
- Mendengarkan dan memahami perasaan anak
- Menciptakan rutinitas yang stabil dan aman
- Mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial
- Memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan teman sebaya
- Menjaga komunikasi yang terbuka dan jujur
Dengan dukungan yang tepat, anak-anak dapat menyesuaikan diri kembali dengan kehidupan sehari-hari mereka setelah mengalami trauma akibat bencana.
Kesimpulan
Trauma healing untuk anak pengungsi adalah langkah vital dalam pemulihan pascabencana. Kegiatan yang dilakukan oleh Polri menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental sama pentingnya dengan bantuan fisik. Dengan kerja sama antara berbagai pihak, diharapkan anak-anak dapat kembali menemukan kebahagiaan dan rasa aman dalam hidup mereka.
Inisiatif ini bukan hanya sekadar program; ini adalah wujud nyata komitmen untuk mendukung generasi masa depan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik meski dalam situasi yang sulit. Mari kita dukung semua upaya untuk memulihkan semangat anak-anak kita yang terdampak bencana.
➡️ Baca Juga: Beasiswa LPDP 2026 di CRUK SI University of Glasgow Kini Dibuka, Dapatkan Informasi Lengkapnya
➡️ Baca Juga: NCT JNJM Umumkan Jadwal Tur Fanmeeting, Apakah Jakarta Termasuk?




