Setu Babakan Lestarikan Budaya Betawi melalui Penghargaan Permainan Tradisional

Pada era di mana teknologi dan modernitas sering kali mendominasi kehidupan sehari-hari, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Setu Babakan, yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengambil inisiatif untuk menghidupkan kembali permainan tradisional Betawi melalui sebuah pameran temporer tahunan. Kegiatan ini tidak hanya sekadar mengajak nostalgia, tetapi juga bertujuan untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan sportivitas kepada generasi muda.
Menjaga Tradisi Melalui Permainan Rakyat
Debby Novita Andriani, Kepala Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, menyampaikan bahwa pameran ini mengangkat beragam jenis permainan serta hiburan tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat Betawi. Beberapa di antaranya adalah dampu, pletokan, dan permainan karet. Kegiatan ini diadakan dengan tema “Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul yang Kagak Ilang” sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.
Makna di Balik Permainan
Penting untuk dicatat bahwa istilah “maen” sengaja digunakan untuk menekankan identitas budaya Betawi. Dalam konteks ini, bermain bukan hanya sekadar soal menang atau kalah, tetapi lebih kepada kebersamaan dan pembelajaran. Debby menjelaskan, “Bermain adalah tentang kebersamaan, belajar mengalah, bersabar, dan melatih pengendalian diri agar hati menjadi girang.” Ini menunjukkan bahwa permainan rakyat menyimpan makna yang lebih dalam dalam membentuk karakter dan nilai-nilai sosial.
Langkah Nyata dalam Pelestarian Budaya
Kegiatan pameran ini merupakan salah satu langkah konkret dalam melestarikan permainan rakyat sebagai bagian dari upaya pemajuan budaya di tengah arus modernisasi. Setu Babakan berfungsi sebagai pusat edukasi dan laboratorium budaya Betawi yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berkomitmen untuk memperkuat identitas kebudayaan lokal di tengah transformasi Jakarta menjadi kota global.
Kolaborasi Pentaheliks untuk Kelestarian Budaya
Debby menambahkan bahwa untuk memastikan kelestarian budaya di DKI Jakarta, pendekatan kolaborasi pentaheliks diterapkan. Ini melibatkan berbagai elemen, termasuk pemerintah, masyarakat, akademisi, perguruan tinggi, dan pihak swasta. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pelestarian budaya lokal.
- Pemerintah sebagai penggerak utama
- Masyarakat sebagai pelestari tradisi
- Akademisi untuk riset dan pengembangan
- Perguruan tinggi untuk pendidikan
- Pihak swasta sebagai mitra dalam kegiatan budaya
Rangkaian Kegiatan yang Mendidik
Selain menyuguhkan koleksi permainan tradisional, pameran ini juga dilengkapi dengan kegiatan pengetahuan atau knowledge management. Para peserta diajak untuk mengikuti lokakarya musik Gambang Kromong dan pelatihan pembuatan bir pletok, yang merupakan minuman khas Betawi yang diatur oleh Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2017.
Membangun Kebanggaan terhadap Warisan Budaya
Debby berharap agar pameran sementara ini dapat diikuti oleh seluruh peserta dan pengunjung hingga akhir acara. Ini merupakan momentum yang tepat untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Jakarta. “Kami ingin memastikan bahwa generasi muda tidak hanya mengandalkan jendela digital untuk memperluas wawasan, tetapi juga mengenal sejarah dan melestarikan budaya,” tegasnya.
Nilai-nilai dalam Permainan Tradisional
Melalui permainan tradisional, terdapat banyak nilai yang dapat dikembangkan, seperti kebersamaan, pengendalian emosi, dan kejujuran. Debby menjelaskan bahwa nilai-nilai ini penting dalam berinteraksi sosial dan berkolaborasi. “Dengan demikian, permainan ini dapat menjadi pegangan hidup dalam bergaul dan bekerja sama,” ujarnya.
Kesadaran dan Tanggung Jawab Generasi Muda
Melihat potensi yang dimiliki oleh permainan tradisional, penting bagi generasi muda untuk menyadari tanggung jawab mereka dalam melestarikan budaya. Debby mengingatkan bahwa memahami sejarah dan tradisi adalah langkah awal dalam menjaga dan meneruskan kebudayaan kepada generasi selanjutnya.
Dengan langkah-langkah yang diambil oleh Setu Babakan, harapannya adalah agar budaya Betawi tidak hanya dikenang, tetapi juga hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern. Melalui kolaborasi dan kegiatan yang mendidik, identitas kebudayaan lokal dapat dipertahankan dan dihargai oleh semua kalangan, terutama oleh generasi muda yang menjadi harapan bangsa.
➡️ Baca Juga: Cek Status Bansos PKH dan BPNT Maret 2026 dengan Langkah Mudah dan Efektif
➡️ Baca Juga: Rincian Terkini Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Java Jazz Festival 2026




