Mengungkap Penyebab Ngigo saat Tidur dan Dampaknya terhadap Kualitas Tidur Anda

Pernahkah Anda melihat seseorang berbicara, tertawa, atau bahkan berbisik saat tidur? Fenomena ini, yang dikenal sebagai ngigo atau berbicara saat tidur, cukup umum terjadi. Meski sering dianggap sepele, ngigo termasuk dalam kategori parasomnia, yaitu perilaku yang muncul dalam keadaan tidur. Menurut Michael R. Nadorff, seorang psikolog tidur dan Profesor Psikologi di Mississippi State University, parasomnia juga mencakup berbagai perilaku lain seperti mimpi buruk dan berjalan dalam keadaan tidur. Meskipun umumnya tidak menimbulkan bahaya, ngigo bisa menjadi perhatian jika frekuensinya cukup tinggi sehingga menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya Memahami Tahapan Tidur
Tidur bukanlah satu kondisi yang terjadi secara seragam sepanjang malam. Sebaliknya, tidur terdiri dari beberapa tahapan yang berlangsung berulang kali. Sekitar 25% dari waktu tidur kita dihabiskan dalam fase REM (rapid eye movement), yang merupakan saat di mana mimpi, terutama yang sangat jelas, terjadi. Sementara itu, 75-80% waktu tidur kita dihabiskan dalam fase non-REM, di mana tubuh melakukan proses pemulihan dan beristirahat dengan lebih dalam. Siklus tidur ini terjadi setiap 90 menit, dengan fase non-REM mendominasi pada awal malam dan fase REM meningkat menjelang pagi.
Menariknya, tidur tidak hanya dilakukan oleh manusia. Berbagai mamalia, mulai dari kucing hingga gajah, juga memiliki pola tidur tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa tidur memiliki banyak fungsi, termasuk memperkuat ingatan dan mendukung pertumbuhan terutama pada anak-anak. Selama tidur, sistem imun juga aktif, sehingga waktu tidur sangat penting bagi pemulihan tubuh dan otak. Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia, dengan remaja disarankan untuk tidur antara 8-10 jam, sementara anak-anak berusia 3-5 tahun memerlukan 10-13 jam tidur setiap malam.
Aktivitas Otak Saat Tidur
Walaupun seseorang yang tertidur tampak sepenuhnya beristirahat, otaknya tetap aktif. Berbagai bagian otak berfungsi berbeda pada tahapan tidur yang berlainan. Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa berbicara saat tidur. Peneliti meyakini bahwa ngigo terjadi ketika bagian otak yang mengontrol bahasa masih aktif, sementara bagian yang mencegah suara keluar dalam keadaan tidur tidak berfungsi. Dengan kata lain, tidak semua bagian otak tidur bersamaan; beberapa bagian tetap aktif sedangkan yang lain sudah tidak. Oleh karena itu, saat seseorang berbicara dalam tidurnya, kata-kata yang diucapkan tidak selalu jelas. Seringkali terdengar gumaman, tawa, atau bisikan. Kata “tidak” merupakan salah satu yang paling sering diucapkan, menyumbang sekitar 5% dari semua kata yang diucapkan saat tidur.
Ucapan lain sering kali berbentuk pertanyaan atau bahkan kata-kata kasar, dan percakapan yang terdengar dalam keadaan tidur sering kali mencerminkan konflik dengan orang lain. Menariknya, terkadang seseorang yang ngigo dapat terlihat seolah-olah sedang terlibat dalam percakapan nyata, dengan jeda seolah memberi kesempatan untuk dijawab. Penelitian menunjukkan bahwa ucapan yang keluar saat tidur pada fase REM memiliki relevansi dengan isi mimpi sekitar 80%. Ini menunjukkan bahwa apa yang diucapkan saat tidur mungkin berkaitan erat dengan pengalaman dalam mimpi.
Respons Terhadap Lingkungan Saat Tidur
Menariknya, seseorang yang berbicara saat tidur kadang bisa merespons ketika diajak bicara. Sekitar setengah dari mereka yang ngigo dapat memberikan respons terhadap pertanyaan atau pernyataan. Namun, ini tidak berarti bahwa seseorang dapat dipaksa untuk mengungkapkan rahasia saat tidur. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa orang bisa diinterogasi untuk mengungkapkan hal-hal yang ingin mereka sembunyikan saat tidur.
Walaupun penelitian tentang ngigo masih terbatas, tampak bahwa fenomena ini dapat terjadi pada berbagai tahap tidur, bukan hanya pada fase tertentu. Penelitian juga menunjukkan perbedaan pola tidur antara individu yang sering ngigo dan yang tidak. Beberapa studi menemukan bahwa orang yang ngigo tidur lebih dari satu setengah jam lebih sedikit setiap malam dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kondisi ini dan mendapatkan waktu tidur REM yang lebih sedikit.
Penyebab Ngigo Saat Tidur
Penyebab paling logis untuk ngigo adalah bahwa otak tidak memasuki kondisi tidur secara bersamaan. Pada beberapa orang, bagian otak yang berhubungan dengan tidur mungkin tetap aktif lebih lama dibandingkan dengan bagian yang biasanya mencegah seseorang berbicara saat tidur. Ini menjelaskan mengapa seseorang tidak perlu terlalu cemas jika mengalami ngigo. Namun, individu yang mengalami ngigo juga memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami parasomnia lainnya, seperti berjalan saat tidur.
Ngigo lebih umum terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa. Para peneliti belum sepenuhnya memahami penyebabnya, tetapi diketahui bahwa anak-anak memiliki lebih banyak tidur gelombang lambat—bagian dari tidur non-REM yang lebih dalam. Seiring bertambahnya usia, proporsi tidur gelombang lambat ini cenderung menurun, yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa ngigo semakin jarang terjadi pada orang dewasa.
Normalitas Ngigo dan Penanganan yang Tepat
Secara umum, ngigo dianggap sebagai kondisi yang normal, seperti halnya parasomnia lainnya. Kondisi ini cenderung semakin jarang dialami seiring bertambahnya usia. Namun, jika ngigo mulai mengganggu atau muncul bersamaan dengan kondisi lain—seperti berjalan saat tidur, mimpi buruk, atau mengompol—maka disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog tidur. Terdapat berbagai metode penanganan yang tersedia untuk membantu mengatasi masalah ini.
Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa ngigo dan beberapa jenis parasomnia lainnya lebih sering terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan berlebih. Oleh karena itu, jika Anda mendapati bahwa Anda mulai lebih sering berbicara saat tidur, hal tersebut bisa menjadi indikasi bahwa tubuh Anda membutuhkan lebih banyak waktu tidur yang berkualitas. Memperhatikan pola tidur dan mengatur waktu tidur yang cukup dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi frekuensi ngigo.
Pola Tidur yang Sehat untuk Mencegah Ngigo
Pola tidur yang baik adalah kunci untuk mengurangi masalah ngigo. Berikut adalah beberapa tips untuk membantu menjaga kualitas tidur Anda:
- Rutinitas Tidur yang Konsisten: Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari membantu mengatur jam biologis tubuh.
- Menciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman: Pastikan kamar tidur gelap, tenang, dan nyaman untuk tidur.
- Hindari Kafein dan Alkohol: Konsumsi kafein dan alkohol dapat mengganggu kualitas tidur Anda.
- Relaksasi Sebelum Tidur: Meditasi atau membaca buku dapat membantu menenangkan pikiran sebelum tidur.
- Olahraga Teratur: Aktivitas fisik yang teratur dapat meningkatkan kualitas tidur, tetapi hindari berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur.
Dengan memperhatikan tips di atas, Anda tidak hanya dapat mengurangi frekuensi ngigo, tetapi juga meningkatkan kualitas tidur secara keseluruhan. Tidur yang baik adalah fondasi untuk kesehatan fisik dan mental yang optimal, jadi pastikan untuk memberikan perhatian yang cukup pada rutinitas tidur Anda.
➡️ Baca Juga: Gubernur Mirza Resmi Menetapkan Pengurus KTNA Lampung Periode 2026-2031
➡️ Baca Juga: Candil Luncurkan Tiga Karya Lagu Religi, Menggambarkan Perjalanan Spiritual Manusia




