170 Pendaki Dievakuasi dari Ranu Kumbolo, Pemadaman Karhutla Gunung Semeru Terus Berlanjut

Di tengah kabut asap yang menyelimuti kawasan Ranu Kumbolo, situasi darurat memaksa 170 pendaki untuk dievakuasi dari lokasi yang dikenal dengan keindahan alamnya ini. Evakuasi berlangsung pada Kamis (27/8) sekitar pukul 14.30 WIB, setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Blok Ranu Kembang, yang terletak di jalur pendakian Gunung Semeru. Keputusan ini diambil demi keselamatan para pendaki yang terjebak di kawasan tersebut.
Proses Evakuasi Pendaki
Evakuasi dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) dan pemandu pendakian terdaftar dari PPGST, yang memberikan pendampingan selama proses tersebut. Melalui sebuah unggahan di media sosial, BB TNBTS menginformasikan bahwa selama perjalanan turun, para pendaki tidak hanya didampingi oleh pemandu tetapi juga oleh petugas TNBTS yang siaga di sepanjang jalur.
“Semua pengunjung telah dievakuasi, saat ini yang tersisa hanya petugas PPGST dan porter,” ungkap salah satu petugas dalam video yang diunggahnya, menunjukkan suasana danau yang tenang dengan latar belakang asap dari titik karhutla di Blok Ranu Kembang.
Situasi Kebakaran yang Mencemaskan
Sebelum evakuasi dilakukan, sekitar 170 pendaki dilaporkan masih berada di kawasan Ranu Kumbolo. Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengungkapkan bahwa lokasi kebakaran berada di atas kawasan Ranu Kumbolo, sehingga langkah evakuasi sangat penting untuk mencegah api merembet lebih jauh. “Kami mendapat laporan bahwa 170 pendaki masih berada di Ranu Kumbolo, tetapi titik kebakaran terletak di Ranu Kembang, yang lebih tinggi,” kata Isnugroho, mengutip informasi yang diterima pada Kamis (27/8).
Tim gabungan bergerak menuju Ranu Kumbolo pada pagi hari untuk melakukan evakuasi, menunjukkan bahwa respons terhadap situasi darurat ini sangat cepat dan terkoordinasi dengan baik.
Upaya Pemadaman Kebakaran
BB TNBTS juga menginformasikan bahwa titik api saat ini berada di Blok Pangonan Cilik. Proses pemadaman terus dilakukan oleh petugas gabungan yang terdiri dari berbagai instansi, termasuk TNBTS, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta dukungan dari BPBD dan TNI-Polri. Mereka semua bekerja sama untuk menanggulangi api yang terus meluas.
Selain melakukan pemadaman langsung di lokasi yang dapat dijangkau, petugas juga berupaya membuat sekat bakar untuk mengendalikan pergerakan api. “Kondisi di lapangan cukup menantang, terutama karena faktor angin dan medan yang terjal,” tulis BB TNBTS dalam unggahan resminya.
Medan yang Sulit dan Opsi Pemadaman
Isnugroho menambahkan, medan di Blok Ranu Kembang sangat curam dan terjal, sehingga mempersulit upaya pemadaman. Dalam situasi ini, salah satu opsi yang mungkin dilakukan adalah pemadaman dari udara melalui water bombing. Sementara itu, tim gabungan tetap berusaha menyisir titik-titik api yang dapat dijangkau dari darat.
Penutupan Jalur Pendakian
Sehubungan dengan kebakaran ini, BB TNBTS telah memutuskan untuk menutup total jalur pendakian Gunung Semeru sejak Rabu (26/8). Penutupan ini resmi ditetapkan melalui Surat Pengumuman Nomor PG.20/T.8/TU/HMS.01.07/B/08/2026 dan akan berlaku hingga waktu yang belum ditentukan. Hal ini dilakukan demi keselamatan pendaki dan untuk memfokuskan sumber daya pada upaya pemadaman kebakaran.
Kebakaran Berulang di Kawasan Pendakian
Kebakaran di Blok Ranu Kembang bukanlah yang pertama kali terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, pada Selasa (25/8), kebakaran juga dilaporkan terjadi di Bukit Sentong, Desa Ranupani. Kejadian ini menunjukkan bahwa masalah karhutla semakin mengkhawatirkan dan memerlukan perhatian lebih dari semua pihak.
BB TNBTS memastikan bahwa semua pendaki yang sebelumnya berada di jalur pendakian telah berhasil dievakuasi ke Ranupani dengan selamat. Saat ini, petugas gabungan masih berada di lapangan untuk menangani titik api yang ada di Blok Pangonan Cilik.
Kesadaran akan Pentingnya Perlindungan Alam
Kejadian kebakaran ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam, khususnya di kawasan yang menjadi tujuan wisata seperti Ranu Kumbolo. Dengan keindahan alam yang memukau dan ekosistem yang berharga, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk melindungi lingkungan agar tetap terjaga.
Selain itu, upaya pemadaman dan evakuasi yang dilakukan menunjukkan betapa pentingnya koordinasi antar lembaga dalam menangani bencana alam. Dukungan masyarakat juga sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya karhutla dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Langkah-langkah Preventif untuk Masa Depan
Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, beberapa langkah preventif perlu diterapkan, antara lain:
- Peningkatan edukasi kepada pendaki mengenai bahaya kebakaran hutan.
- Penerapan regulasi yang lebih ketat terkait aktivitas di kawasan rawan karhutla.
- Pengembangan program monitoring dan deteksi dini untuk mendeteksi kebakaran lebih cepat.
- Peningkatan kerjasama antara instansi pemerintah dan masyarakat setempat.
- Penyediaan sarana dan prasarana pemadaman yang lebih baik di kawasan wisata.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kejadian kebakaran hutan di kawasan Ranu Kumbolo dan sekitarnya dapat diminimalisir, sehingga keindahan alam yang ada tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: Momen Unik Menteri Pendidikan Singapura Bagikan Soal PSLE di Parlemen, Tepis Mitos Kesulitan Ujian
➡️ Baca Juga: Tips Alami untuk Menjaga Kesehatan Kulit yang Cerah dan Awet Muda secara Efektif



