Tren Telekomunikasi Global dan Peluang Modernisasi untuk Sektor Indonesia

Dalam era digital yang terus berkembang, sektor telekomunikasi global menghadapi tantangan dan peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan pesatnya kemajuan teknologi, operator telekomunikasi di seluruh dunia dituntut untuk beradaptasi dan modernisasi guna tetap relevan dalam industri yang kompetitif. Di Asia-Pasifik, dan khususnya Indonesia, kebutuhan untuk bertransformasi menjadi semakin mendesak. Dalam konteks ini, Ben Panic, yang menjabat sebagai Wakil Presiden Global Sales di Telco Centre of Excellence Red Hat, mengungkapkan wawasan penting mengenai tren telekomunikasi global yang dapat mendorong modernisasi di sektor ini.
Empat Domain Utama dalam Tren Telekomunikasi Global
Dalam presentasinya di Mobile World Congress (MWC) 2026, Ben Panic menyoroti empat domain utama yang mendominasi industri telekomunikasi saat ini. Domain tersebut adalah Horizontal Telco Cloud, Virtualisasi, Kecerdasan Buatan (AI), dan Sovereign Cloud. Masing-masing domain ini memiliki implikasi yang signifikan bagi operator telekomunikasi, terutama dalam konteks modernisasi dan efisiensi operasional.
Horizontal Telco Cloud
Salah satu tren yang paling menonjol adalah Horizontal Telco Cloud. Ini merupakan pergeseran paradigma dari model vertikal tradisional, di mana operator terikat pada satu vendor tertentu untuk semua aspek perangkat keras dan perangkat lunak. Dengan adopsi model horizontal, operator kini memiliki fleksibilitas untuk memilih perangkat keras dari berbagai penyedia, seperti Dell, HPE, atau Supermicro. Hal ini memungkinkan mereka untuk menggabungkan aplikasi dari berbagai vendor, seperti inti 4G dari Ericsson dan Nokia, yang menawarkan dua keuntungan utama:
- Memberikan redundansi dalam aplikasi.
- Menurunkan biaya operasional melalui kompetisi harga antar vendor.
Panic menjelaskan bahwa setelah beralih ke horizontal cloud, tidak ada operator global yang kembali ke model vertikal. Fleksibilitas ini menjadi sangat penting, terutama untuk memanfaatkan teknologi akselerator seperti GPU yang diperlukan untuk AI.
Adopsi Kecerdasan Buatan (AI)
Di tengah perkembangan Horizontal Telco Cloud, adopsi AI juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Banyak operator telekomunikasi saat ini memfokuskan upaya mereka pada penggunaan internal AI, yang mencakup:
- Otomatisasi proses.
- Operasi jaringan berbantuan AI.
- Peningkatan pengalaman pelanggan melalui chatbot.
Penggunaan AI ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan, yang semakin menjadi prioritas dalam industri telekomunikasi.
Sovereign Cloud dan Keamanan Data
Konsep Sovereign Cloud menjadi sangat relevan di kawasan Asia-Pasifik dan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA). Inisiatif ini didorong oleh kebutuhan negara-negara untuk menjaga data dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada penyedia layanan cloud publik yang sebagian besar berbasis di Amerika Serikat. Operator telekomunikasi memiliki posisi yang baik untuk menyediakan layanan cloud berdaulat ini, berkat infrastruktur yang ada, posisi regulasi yang kuat, serta pengalaman operasional yang luas.
Peluang Modernisasi di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, Ben Panic mencatat bahwa pasar telekomunikasi historisnya cenderung mengadopsi solusi vertikal. Namun, tren horizontal cloud mulai terlihat dan menawarkan peluang besar untuk modernisasi. Indonesia bisa memanfaatkan pelajaran berharga dan blueprint yang telah dibangun oleh operator di pasar yang lebih matang seperti Jepang, Korea Selatan, dan India. Dengan memanfaatkan teknologi dan pengalaman tersebut, Indonesia dapat mempercepat modernisasi di sektor telekomunikasi.
Tekanan untuk Bertransformasi
Dengan pasar yang sangat kompetitif, operator telekomunikasi di Indonesia dituntut untuk dapat merilis penawaran baru dalam waktu yang jauh lebih singkat, dari bulan menjadi jam atau bahkan menit. Modernisasi bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan, tetapi juga mengurangi biaya operasional dengan menghilangkan utang teknis yang diakibatkan oleh penggunaan aplikasi dan perangkat keras yang ketinggalan zaman.
Prioritas Investasi: Modernisasi Jaringan
Dalam hal strategi investasi, Ben Panic merekomendasikan agar operator memprioritaskan modernisasi jaringan. “Jika Anda ingin mendorong pendapatan dari AI di tahun-tahun mendatang, Anda harus memodernisasi jaringan terlebih dahulu,” tegasnya. Jaringan yang terbuka dan horizontal memberikan kebebasan untuk memilih mitra dan inovasi yang lebih besar. Sebaliknya, jaringan yang tertutup dapat mengunci operator pada satu penyedia, yang membatasi kemampuan mereka untuk beradaptasi dan berkembang.
Proses Modernisasi dan Evolusi ke Techco
Proses modernisasi ini diharapkan akan memakan waktu dua hingga tiga tahun untuk dioperasionalisasikan. Mayoritas proses ini akan mengikuti pendekatan migrasi, di mana platform baru dibangun bersamaan dengan sistem lama, alih-alih melakukan pembongkaran total. Dalam jangka panjang, fokus utama bagi operator telekomunikasi adalah bertransformasi dari telco menjadi techco, sebuah langkah evolusi yang signifikan menuju perusahaan yang dipacu oleh AI pada tahun 2030.
Sektor telekomunikasi Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk bertransformasi dan beradaptasi terhadap tren telekomunikasi global. Dengan memahami dan mengimplementasikan perubahan yang diperlukan, operator dapat tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin dalam era digital yang akan datang.
➡️ Baca Juga: Festival Jababeka Berhasil Menarik Ribuan Pengunjung di Cikarang dengan Antusiasme Tinggi
➡️ Baca Juga: Gubernur Mirza Lakukan Pemantauan Perbaikan Jalan Provinsi di Tulang Bawang Barat




