AS Dorong Jepang Naikkan Suku Bunga, Yen Beranjak dari Titik Terendahnya

Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian dunia tertuju pada langkah-langkah yang akan diambil oleh Bank of Japan (BOJ) terkait suku bunga. Dengan tantangan inflasi yang meningkat dan nilai yen yang terus melemah, saat ini ada tekanan yang signifikan bagi Jepang untuk melakukan penyesuaian kebijakan moneter. Situasi ini semakin kompleks dengan intervensi dari Amerika Serikat yang mendorong BOJ untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Dalam konteks ini, pemahaman terhadap dinamika yang terjadi menjadi sangat penting.
Tekanan Inflasi dan Pelemahan Yen
Bank of Japan diperkirakan akan mengambil langkah lebih agresif untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan inflasi yang dirasakan di dalam negeri serta pelemahan yen yang telah mencapai titik terendahnya. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa 66 dari 68 ekonom, atau sekitar 97 persen, memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25 persen pada tanggal 18 September. Angka ini meningkat signifikan dari 57 persen pada survei sebelumnya.
Lebih menarik lagi, banyak ekonom yang beranggapan bahwa kenaikan suku bunga berikutnya akan terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Sekitar 62 persen responden memprediksi bahwa suku bunga BOJ akan mencapai setidaknya 1,75 persen pada kuartal kedua tahun 2027, yang merupakan kemajuan prediksi sekitar tiga bulan dibandingkan dengan jajak pendapat pada Agustus.
Dukungan dari Amerika Serikat
Upaya untuk memperketat kebijakan moneter di Jepang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik. Survei menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen responden percaya bahwa intervensi pembelian yen oleh AS dan Jepang, serta pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, telah mengurangi hambatan politik bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga. Dalam pertemuannya dengan Gubernur BOJ Kazuo Ueda, Bessent mengungkapkan dukungannya terhadap pendekatan moneter yang lebih ketat untuk mengatasi pelemahan yen.
Dalam konteks ini, Jepang berada dalam posisi yang cukup rumit. Pemerintah harus menjaga pertumbuhan ekonomi dengan kebijakan fiskal yang longgar, tetapi pada saat yang sama, tekanan inflasi dan nilai yen yang lemah menyebabkan kebijakan moneter yang terlalu longgar menjadi semakin sulit untuk dipertahankan. Yusuke Koshiyama, seorang ekonom senior di Mizuho Research Institute, menyatakan bahwa sulit bagi BOJ untuk menjelaskan penyesuaian kebijakan moneter selama pemerintah tetap pada sikap fiskal yang akomodatif.
Penguatan Yen dan Reaksi Pasar
Ekspektasi akan kenaikan suku bunga yang lebih cepat mulai memberikan dampak positif bagi yen. Indikasi awal repatriasi modal dan harapan untuk pengetatan moneter BOJ, ditambah dengan tekanan dari Amerika Serikat, berkontribusi pada penguatan mata uang Jepang. Pada Rabu lalu, yen diperdagangkan di level 153,37 per dolar AS, mendekati posisi terkuatnya sejak Februari.
Pasar mulai memperhitungkan bahwa era suku bunga yang sangat rendah di Jepang mungkin akan segera berakhir. Kelvin Lam, ekonom senior di Pantheon Macroeconomics, berpendapat bahwa ekspektasi inflasi yang meningkat dapat membuat BOJ merasa perlu untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi dari yang direncanakan. Ia menekankan bahwa peningkatan ekspektasi inflasi yang lebih cepat bisa memaksa bank sentral untuk membuat penyesuaian signifikan.
Proyeksi Kenaikan Suku Bunga
Dalam jajak pendapat terbaru, sebanyak 89 persen analis, yang terdiri dari 57 dari 64 responden, memperkirakan suku bunga kebijakan BOJ akan mencapai setidaknya 1,50 persen pada akhir Maret 2027. Angka ini menunjukkan peningkatan dari 65 persen dalam survei sebelumnya. Bahkan, ada peluang yang semakin diperhitungkan untuk suku bunga naik hingga 2 persen atau lebih, dengan 40 persen responden memilih level tersebut sebagai kemungkinan puncak, naik dari 36 persen pada Agustus dan 23 persen pada Juli.
Disiplin Fiskal dan Tantangan Anggaran
Namun, masalah Jepang tidak hanya terbatas pada suku bunga dan yen. Permintaan anggaran untuk tahun fiskal mendatang mencapai 143,1 triliun yen, sekitar USD931,2 miliar. Angka ini mendekati level saat pandemi Covid-19 dan menimbulkan kembali pertanyaan mengenai seberapa kuat disiplin fiskal Jepang. Sebanyak 28 dari 38 ekonom, atau hampir tiga perempat responden, mengungkapkan bahwa besarnya permintaan anggaran ini meningkatkan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal negara tersebut.
Kekhawatiran ini dapat semakin meningkat ketika pemerintah mulai menetapkan anggaran final dan kebutuhan untuk menerbitkan obligasi baru. Kei Fujimoto, ekonom senior di Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, menekankan bahwa permintaan anggaran yang sangat tinggi ini tidak sesuai untuk kondisi normal, bahkan setara dengan anggaran tahun fiskal 2021 ketika Jepang masih berjuang menghadapi pandemi.
Kebijakan Pajak dan Implikasi Ekonomi
Di samping itu, pemerintah berencana untuk memangkas pajak konsumsi untuk beberapa bahan pangan, yang semakin meningkatkan perhatian pasar keuangan terhadap bagaimana Jepang akan mengamankan sumber pendanaannya. Kombinasi dari inflasi, nilai yen yang masih tertekan, potensi kenaikan suku bunga yang lebih cepat, serta kebutuhan anggaran yang besar, menempatkan Jepang dalam situasi dilema besar: menjaga pertumbuhan ekonomi atau mulai mengetatkan kebijakan untuk mengembalikan stabilitas mata uang dan harga.
Kesimpulan
Dalam menghadapi tantangan yang kompleks ini, tindakan yang diambil oleh Bank of Japan dan pemerintah Jepang akan memiliki dampak jangka panjang pada ekonomi domestik dan global. Keputusan untuk menaikkan suku bunga tidak hanya akan mempengaruhi nilai yen tetapi juga mencerminkan respons Jepang terhadap tekanan inflasi dan keinginan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Saat dunia mengamati langkah-langkah tersebut, penting bagi para pelaku pasar dan ekonom untuk terus menganalisis situasi dan proyeksi yang ada demi memahami implikasi yang lebih luas.
➡️ Baca Juga: Penurunan Berat Badan 10 Persen Dapat Meredakan Nyeri Osteoarthritis Lutut
➡️ Baca Juga: Pemkab Bogor Kerja Sama dengan TNI untuk Mempercepat Pembangunan Infrastruktur dan Kamtibmas




