The Panturas Bagikan Pengalaman Tampil di Fuji Rock dan Rencana Album Ketiga

Jakarta – The Panturas, band surf rock yang telah mencuri perhatian di kancah musik internasional, baru-baru ini berbagi pengalaman mereka yang sangat berharga saat tampil di Fuji Rock Festival di Jepang. Dalam wawancara mendalam, mereka juga menggali makna dari membawa nama Indonesia di pentas global, serta tantangan yang dihadapi dalam memperkenalkan musik lokal. Dari cerita membanggakan saat tampil di luar negeri hingga rencana mereka untuk album ketiga, wawancara ini memberikan gambaran yang jelas tentang perjalanan dan harapan mereka untuk musik Indonesia.
Membawa Nama Indonesia di Panggung Internasional
The Panturas merasakan beban dan kebanggaan yang luar biasa ketika tampil di luar negeri. Saat mereka berdiri di panggung internasional, mereka tidak hanya mewakili diri mereka sendiri, tetapi juga seluruh bangsa. Menurut Gogon, bassist The Panturas, setiap kali mereka tampil di luar negeri, mereka merasa seperti tim nasional yang membawa bendera Indonesia. Ia mengatakan, “Ketika kita tampil, kita ingin orang-orang mengenal siapa kita dan dari mana kita berasal. Kita ingin memberikan yang terbaik, karena penampilan kita akan mencerminkan kualitas musik Indonesia secara keseluruhan.”
Acin, vokalis dan gitaris, menambahkan bahwa meskipun mereka merasakan cinta yang mendalam terhadap tanah air, mereka juga tidak bisa menutup mata terhadap berbagai masalah yang terjadi di Indonesia. “Kita semua memiliki hubungan cinta dan benci dengan Indonesia. Kita mencintai negara ini, tetapi kita juga ingin melihatnya lebih baik,” ujarnya.
Momen Berharga di Fuji Rock
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi The Panturas adalah ketika mereka pertama kali tampil di Fuji Rock Festival. Gogon menceritakan bagaimana saat itu, mereka mengucapkan, “Halo, kami The Panturas dari Jatinangor, Indonesia!” untuk pertama kalinya di panggung internasional. “Rasanya luar biasa bisa mengucapkan itu di depan penonton yang beragam,” kenangnya.
Kuya, drummer band ini, menambahkan bahwa di panggung internasional, musiklah yang menjadi bahasa universal. “Kami tampil sebaik mungkin, dan itu membuat orang-orang tertarik. Setelah penampilan kami di Fuji Rock, banyak yang datang ke Indonesia untuk menjelajahi musik lokal,” katanya.
Dampak Penjaringan Pendengar Global
Setelah tampil di Fuji Rock, The Panturas merasakan dampak signifikan terhadap jumlah pendengar mereka di seluruh dunia. Kuya mengungkapkan bahwa Jepang kini menjadi salah satu negara dengan angka streaming tertinggi untuk band mereka, setelah Indonesia dan Malaysia. “Sebelum Fuji Rock, Jepang bahkan tidak ada di daftar 10 besar kami. Ini adalah efek dari tampil di festival tersebut,” jelasnya.
Tantangan yang Dihadapi
Sementara kesuksesan di panggung internasional menggembirakan, The Panturas juga menghadapi banyak tantangan, terutama dalam hal regulasi dan dukungan pemerintah. Menurut Gogon, banyak band Indonesia yang terpaksa batal tampil di luar negeri karena kesulitan mendapatkan visa. “Kami berharap pemerintah bisa lebih mendukung musisi lokal, karena banyak band berbakat yang terhambat oleh masalah ini,” ungkapnya. Kuya menambahkan, “Kita perlu ada dukungan yang lebih dari pemerintah agar musik Indonesia bisa bersinar di mata dunia.”
- Kesulitan mendapatkan visa untuk tampil di luar negeri.
- Paspornya yang lemah membuat banyak band terhambat.
- Kurangnya dukungan finansial untuk musisi.
- Kurangnya regulasi yang mendukung musik lokal.
- Perbandingan dengan negara lain yang lebih mendukung musisinya.
Potensi Musik Indonesia di Kancah Global
The Panturas percaya bahwa potensi musik Indonesia sangat besar, asalkan ada dukungan dari semua pihak. “Banyak band berbakat di Indonesia, tetapi mereka memerlukan ekosistem yang mendukung untuk bisa bersaing secara global,” kata Gogon. Acin menambahkan bahwa keragaman musik di Indonesia adalah salah satu kekuatan yang dapat diandalkan. “Mungkin musik kita beragam karena regulasi yang longgar, tetapi kita perlu dukungan untuk menjadikan musik Indonesia dikenal lebih luas,” ujarnya.
Perjalanan Menuju California Tour
The Panturas juga berbagi rencana mereka untuk tur ke California. Gogon menjelaskan bahwa tur ini merupakan bagian dari perayaan 10 tahun mereka berkarya. “Kami ingin merayakan perjalanan kami ke Amerika dan kembali ke akar musik yang menginspirasi kami,” katanya. Acin menambahkan bahwa mereka tidak menargetkan ekspektasi yang terlalu tinggi, tetapi lebih ingin menikmati prosesnya. “Kami menganggap ini sebagai ziarah ke tempat yang telah menginspirasi musik kami,” ujarnya.
Kuya menekankan bahwa meskipun mereka memiliki materi baru, mereka tidak ingin terburu-buru untuk merilisnya. “Kami ingin memastikan bahwa setiap lagu yang kami buat memiliki kualitas terbaik,” ungkapnya.
Pesan untuk Generasi Muda dan Harapan untuk Indonesia
Bagi band-band muda yang ingin menembus pasar internasional, The Panturas memiliki pesan yang jelas. “Nongkrong adalah kunci. Koneksi yang terbentuk saat nongkrong bisa membuka banyak peluang,” kata Gogon. Kuya menambahkan, “Tetaplah bersatu dan terus berkarya, meskipun tantangan datang. Suatu saat, jalan akan terbuka.”
Gogon juga membagikan harapannya untuk Indonesia. “Saya berharap negara kita segera pulih dari semua masalah yang ada. Semoga Indonesia menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk ditinggali,” ujarnya. Ijal menambahkan, “Kami ingin melihat Indonesia yang lebih baik, khususnya untuk generasi mendatang.”
Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, The Panturas terus berjuang untuk mengangkat nama Indonesia di panggung dunia, berharap agar musik lokal bisa mendapatkan pengakuan yang layak.
➡️ Baca Juga: Merger Moratelindo (MORA) dan MyRepublic: Nama Baru Sudah Siap Diluncurkan
➡️ Baca Juga: Strategi Pola Makan untuk Meningkatkan Kesehatan Mental dan Emosi yang Stabil



