Sulam Kapalo Samek Go Internasional, Dekranasda Padang Pariaman Perkenalkan di Belgia

Pada ajang bergengsi Indonesia Creative Week Belgium (ICWB) 2026, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, memperkenalkan Sulam Kapalo Samek sebagai salah satu warisan kriya unggulan. Event ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga kesempatan berharga untuk memperkenalkan kerajinan tradisional Indonesia di panggung internasional.
Kesempatan Emas untuk Memperkenalkan Kerajinan Tradisional
Ketua Dekranasda Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, menyatakan bahwa partisipasi dalam ICWB merupakan langkah strategis untuk mengenalkan kerajinan khas daerah kepada dunia. “Ini adalah kesempatan bagi kami untuk menunjukkan keunikan Sulam Kapalo Samek kepada masyarakat global dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas,” ujarnya saat ditemui di Parik Malintang.
Melalui undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussels, keikutsertaan Sulam Kapalo Samek di Belgia menjadi momen penting bagi daerah tersebut. Hal ini memungkinkan Padang Pariaman untuk menampilkan identitas budayanya dan memperluas jaringan pasar bagi para perajin lokal.
Harapan untuk Pelaku UMKM
Ny. Nita berharap partisipasi ini akan menciptakan lebih banyak peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang. “Kami berharap momentum ini dapat membuka jalan bagi para perajin untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing mereka di pasar global,” ungkapnya.
Keunikan Sulam Kapalo Samek
Sulam Kapalo Samek tidak hanya dikenal karena keindahan motif dan tekniknya, tetapi juga karena nilai budaya yang terkandung di dalam setiap helai benang yang ditenun. Setiap motif yang dikerjakan oleh perajin merupakan hasil dari pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, menjadikan setiap karya sebagai representasi dari sejarah dan tradisi yang mendalam.
Dalam konteks global yang bergerak cepat, penting bagi kita untuk melestarikan warisan budaya ini. “Usaha untuk membawa Sulam Kapalo Samek ke panggung internasional adalah langkah penting dalam menjaga kelangsungan tradisi ini,” tambahnya.
Kolaborasi dengan Desainer Nasional
Dekranasda Padang Pariaman bekerja sama dengan desainer ternama untuk mengembangkan motif sulaman tradisional. Dengan pendekatan desain yang inovatif, Sulam Kapalo Samek dapat diadaptasi ke dalam berbagai bentuk busana modern yang menarik, tanpa menghilangkan esensi dan identitas aslinya.
Inovasi dalam Desain Busana
Dalam event ICWB, berbagai model baju kurung yang mengusung sentuhan Sulam Kapalo Samek diperkenalkan. Desain-desain ini dirancang untuk menyesuaikan dengan karakter dan selera pasar saat ini, sambil tetap menjaga warisan budaya yang menjadi akar dari setiap produk.
- Model baju kurung dengan motif klasik dan modern.
- Penggunaan warna yang menarik dan sesuai tren.
- Detail sulaman yang memperkuat identitas lokal.
- Material berkualitas tinggi untuk meningkatkan daya tarik.
- Desain yang praktis dan nyaman dipakai.
ICWB 2026: Misi Pelestarian Budaya
ICWB 2026 merupakan inisiatif oleh Native Indonesia, gerakan diaspora yang berkomitmen untuk melestarikan budaya Indonesia dan mendukung UMKM. Kegiatan ini tidak hanya fokus pada promosi produk, tetapi juga pada penguatan identitas budaya Indonesia di kancah internasional.
Melalui acara ini, Sulam Kapalo Samek diharapkan dapat menarik perhatian pengunjung dan pembeli potensial, serta membuka peluang baru bagi para perajin untuk memasarkan produk mereka secara lebih luas. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, warisan budaya ini diharapkan dapat terus hidup dan berkembang.
Partisipasi Padang Pariaman dalam ICWB 2026 adalah langkah penting dalam mempromosikan kerajinan lokal sekaligus menunjukkan komitmen untuk melestarikan budaya Indonesia. Sulam Kapalo Samek bukan hanya sekadar produk, tetapi juga simbol dari kekayaan budaya yang perlu dirayakan dan diwariskan kepada generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: Netflix Umumkan Reuni ‘The Inbetweeners’ untuk Menghidupkan Kembali Sitkom Klasik 2000-an
➡️ Baca Juga: Kebakaran Kantor BYD Shenzhen: Penyebab Ternyata Bukan dari Baterai EV




