Jakarta – Tekanan global yang semakin meningkat berimbas pada kebijakan moneter, khususnya dalam hal pemotongan suku bunga. Ekonom dari Mirae Sekuritas, Jessica Tasjiawa, dalam analisis terbarunya, mengungkapkan bahwa ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter kini semakin sempit. Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) di Amerika Serikat tetap berada di level 2,8 persen secara tahunan (YoY) per Februari 2026, sementara inflasi inti tercatat di angka 3,0 persen YoY. Meskipun ada tanda-tanda moderasi, angka-angka ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih jauh di atas target 2 persen yang ditetapkan oleh Federal Reserve (The Fed).
Di sisi lain, permintaan juga mengalami pelemahan. Pengeluaran konsumen meningkat 0,5 persen secara bulanan (MoM), tetapi pendapatan pribadi justru mengalami penurunan sebesar 0,1 persen. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal IV-2025 juga direvisi turun menjadi 0,5 persen. Jessica menambahkan, “Data ini mencerminkan latar belakang pertumbuhan yang mulai melambat, dan memperbesar risiko stagflasi.” Ia mencatat bahwa meskipun data ini belum sepenuhnya mencerminkan dampak dari lonjakan harga energi akibat ketegangan AS-Iran, arah risiko yang muncul sudah terlihat jelas.
Risiko dan Ketidakpastian Ekonomi Global
Dengan kondisi tersebut, The Fed diperkirakan akan mengambil sikap yang lebih berhati-hati, sehingga ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek semakin terbatas. Selain itu, Bank Dunia juga memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik (EAP) akan mengalami perlambatan. Pertumbuhan diperkirakan akan menurun dari 5,0 persen pada 2025 menjadi 4,2 persen pada 2026, sebelum kembali meningkat menjadi 4,4 persen pada 2027.
Penyebab Pelemahan Ekonomi
Jessica menjelaskan bahwa beberapa faktor utama menjadi pendorong pelemahan ini. Pertama, lonjakan harga energi akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah, di mana harga minyak melonjak sekitar 30 persen dan harga gas meningkat hingga 90 persen. Kedua, ketidakpastian yang meningkat dalam perdagangan global, terutama terkait dengan kebijakan tarif yang lebih tinggi dari Amerika Serikat. Ketiga, dampak dari transformasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang belum merata di kawasan.
- Lonjakan harga energi yang signifikan
- Peningkatan ketidakpastian perdagangan global
- Dampak transformasi AI yang terbatas
- Risiko stagflasi yang meningkat
- Pelemahan permintaan domestik
Jessica menambahkan, “Peningkatan produktivitas yang diharapkan dari AI masih terkendala oleh kesenjangan dalam hal konektivitas, keterampilan, dan kesiapan ekosistem.” Dalam konteks ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diperkirakan akan melambat menjadi 4,7 persen pada 2026. Meskipun demikian, dampaknya dipandang lebih terbatas dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan, berkat status Indonesia sebagai eksportir komoditas dan dorongan investasi dari pemerintah. Permintaan domestik yang tetap kuat juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional.
Strategi Fiskal dan Pendapatan Negara
Di sektor fiskal, Kementerian Keuangan tengah mempertimbangkan revisi target pendapatan negara bukan pajak (PNBP) untuk tahun 2026 sebesar Rp459,2 triliun. Penyesuaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan perubahan asumsi terkait harga komoditas global. Namun, Jessica memperingatkan bahwa tambahan pendapatan dari kenaikan harga komoditas kemungkinan tidak akan signifikan. Kenaikan tersebut bisa jadi akan diimbangi oleh meningkatnya belanja subsidi dan kompensasi, terutama akibat tingginya harga minyak.
“Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berpotensi memperlebar defisit fiskal sekitar 0,02 hingga 0,07 persen dari PDB,” ungkapnya. Ia juga menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pendapatan berbasis komoditas masih bersifat pro-siklikal dan rentan terhadap volatilitas, sehingga diperlukan strategi yang lebih berkelanjutan dan terdiversifikasi dalam pengelolaan pendapatan negara.
Perkembangan Pasar Keuangan dan Valuta Asing
Dari segi pasar keuangan, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dengan tenor 10 tahun mengalami sedikit kenaikan ke level 6,62 persen, sementara untuk tenor 2 tahun turun menjadi 6,07 persen. Pergerakan ini mencerminkan kurva imbal hasil yang semakin mendatar, sejalan dengan preferensi investor yang lebih memilih instrumen jangka pendek. Di sisi lain, imbal hasil US Treasury menunjukkan penurunan, dengan tenor 10 tahun berada di angka 4,28 persen dan tenor 2 tahun di 3,78 persen. Hal ini memicu sedikit pelebaran spread antara obligasi Indonesia dan AS untuk tenor yang lebih panjang.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan menuju kisaran Rp17.085 per dolar AS, meskipun indeks dolar (DXY) cenderung melemah di level 98. Pelemahan ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian global serta data ekonomi AS yang lebih lemah dari yang diharapkan. Jessica mencatat bahwa volatilitas global akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang ke depan, yang juga memperkuat sikap Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas. Akibatnya, ruang untuk penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin terbatas.
Menghadapi Tantangan Ekonomi Global
Dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks, penting bagi Indonesia untuk tetap waspada dan adaptif. Mengingat ketidakpastian yang ada, kebijakan ekonomi yang prudent dan responsif menjadi kunci untuk menjaga stabilitas. Dalam hal ini, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Strategi diversifikasi ekonomi juga harus dipertimbangkan agar ketergantungan terhadap komoditas dapat dikurangi. Mendorong inovasi dan pengembangan sektor-sektor baru yang berbasis teknologi, seperti digitalisasi dan industri kreatif, bisa menjadi langkah strategis untuk menghadapi gejolak pasar global.
Sementara itu, perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat juga harus tetap menjadi prioritas. Penguatan daya beli masyarakat dan peningkatan kualitas hidup melalui program-program sosial dan ekonomi yang inklusif akan membantu menciptakan stabilitas jangka panjang.
Akhirnya, meskipun ruang pemotongan suku bunga semakin terbatas, Indonesia tetap memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang. Dengan pendekatan yang tepat, negara ini dapat menghadapi tantangan yang ada dan meraih peluang di tengah ketidakpastian global.
➡️ Baca Juga: Kathryn Hahn Dikonfirmasi Memerankan Mother Gothel dalam Versi Live Action Tangled
➡️ Baca Juga: Memanfaatkan THR: Panduan Mendapatkan iPhone 16 Bekas dengan Harga Terbaik untuk Lebaran 2026
