Ritual Ngaruat Gunung Badui Diterima Pemprov Banten untuk Pelestarian Budaya dan Lingkungan

Ritual Ngaruat Gunung merupakan tradisi yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat Badui, yang mengedepankan harmoni antara manusia dan alam. Dalam konteks pelestarian budaya dan lingkungan, Pemerintah Provinsi Banten memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan ritual ini. Dengan mengusung tema “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat,” ritual tersebut tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menegaskan komitmen untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang ada.
Dukungan Pemprov Banten terhadap Ritual Ngaruat Gunung Badui
Gubernur Banten, Andra Soni, menyatakan komitmen pemerintah dalam mendukung pelaksanaan ritual Ngaruat Gunung yang akan dilaksanakan oleh masyarakat adat Badui di beberapa lokasi, seperti Sanghyang Sirah dan Gunung Honje. Hal ini disampaikan setelah menerima amanat dari 1.552 warga adat Badui yang hadir dalam acara puncak Seba Badui 2026.
“Melalui Dinas Lingkungan Hidup, kami akan berkolaborasi dengan pemerintah Kabupaten Lebak dan Pandeglang untuk merealisasikan harapan mereka dalam melaksanakan ritual di lokasi yang telah ditentukan,” kata Andra Soni. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung pelestarian budaya dan lingkungan melalui ritual yang kaya makna ini.
Makna Filosofis Ritual Ngaruat Gunung
Gubernur Banten memberikan apresiasi tinggi terhadap ketaatan masyarakat Kanekes yang tetap memegang teguh amanah dari leluhur untuk menjaga alam. Filosofi yang dipegang mereka, “gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak,” mencerminkan prinsip yang sejalan dengan program pemerintah dalam melestarikan lingkungan hidup. Dengan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, masyarakat Badui berkontribusi pada upaya pelestarian sumber daya alam yang sangat penting.
Peran Masyarakat Badui dalam Pelestarian Lingkungan
Kepala Desa Kanekes, yang juga dikenal sebagai Jaro Pamarentah, Jaro Oom, menjelaskan bahwa kehadiran masyarakat Badui untuk menemui Gubernur merupakan bagian dari prosesi adat pascapanen yang dikenal dengan istilah ngalaksa. Dalam kesempatan ini, mereka menyampaikan mandat dari lembaga adat dan instruksi Puun Badui terkait pentingnya menjaga alam.
Pesan utama dari ritual ini adalah menjaga keselarasan antara manusia dan alam, yang tidak hanya terbatas pada tanah ulayat, tetapi juga mencakup wilayah-wilayah penting di sekitarnya. Ini adalah suatu pengingat bahwa tanggung jawab untuk merawat lingkungan adalah tugas bersama yang harus diemban oleh semua pihak.
Wilayah Penting dalam Ritual Ngaruat Gunung
Ritual Ngaruat Gunung tidak hanya berlangsung di wilayah ulayat, tetapi juga mencakup beberapa lokasi penting di luar kawasan tersebut, antara lain:
- Sanghyang Sirah
- Ujung Kulon
- Gunung Honje
- Ujung Genteng
- Tanjung Lesung
Wilayah ini juga termasuk kawasan Gunung Jagabrekat yang membentang dari Gunung Karang, Gunung Sanggabuana di Jawa Barat, hingga Gunung Liman di Jawa Timur. Dengan terlibatnya berbagai lokasi tersebut, ritual ini semakin menegaskan pentingnya pelestarian lingkungan secara menyeluruh.
Komitmen Masyarakat Badui terhadap Ritual Ngaruat Gunung
Jaro Oom menekankan bahwa masyarakat Badui berkomitmen untuk terus menjalankan aturan adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. “Kami melaksanakan ritual sakral untuk menyelamatkan gunung, sungai, dan hutan. Kami ngaraksa gunung ngarawat alam,” ungkapnya dengan tegas. Ini adalah pernyataan komitmen yang menunjukkan dedikasi masyarakat Badui dalam menjaga kelestarian alam.
Pelaksanaan ritual ini direncanakan akan dilakukan secara teratur oleh masyarakat Badui. Hal ini bukan hanya untuk melestarikan warisan budaya mereka, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi yang akan datang.
Manfaat Pelestarian Melalui Ritual Ngaruat Gunung
Pentingnya ritual Ngaruat Gunung bagi masyarakat Badui dan lingkungan sekitar tidak bisa dipandang sebelah mata. Beberapa manfaat yang dihasilkan dari pelaksanaan ritual ini antara lain:
- Menjaga keseimbangan ekosistem lokal.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan.
- Memperkuat identitas budaya masyarakat Badui.
- Menjalin kerjasama antara pemerintah dan masyarakat adat.
- Mendorong partisipasi aktif dalam pelestarian lingkungan.
Dengan berbagai manfaat tersebut, ritual Ngaruat Gunung menjadi salah satu pilar dalam upaya pelestarian budaya dan lingkungan yang saling mendukung.
Kesimpulan
Ritual Ngaruat Gunung yang digagas oleh masyarakat Badui merupakan simbol kuat dari komitmen mereka dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Banten semakin memperkuat posisi ritual ini sebagai bagian dari pelestarian budaya dan lingkungan. Melalui kolaborasi ini, diharapkan tidak hanya budaya Badui yang terjaga, tetapi juga kelestarian alam yang menjadi warisan bagi generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: Flower Moon Akan Terlihat Jelas pada 1 Mei 2026 di Langit Hari Buruh yang Indah
➡️ Baca Juga: Telkomsel Raih Lima Penghargaan Ookla Speedtest Awards 2026 dengan Kecepatan Tertinggi




