Perbaikan Sistem Algoritma Medsos Diperlukan, Pembatasan Anak Tak Cukup Menurut Dosen UGM

Setelah pemerintah mengumumkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun yang akan berlaku mulai 28 Maret 2026, muncul perdebatan mengenai efektivitas kebijakan tersebut. Gilang Desti Parahita, Dosen dari Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), mengingatkan bahwa sekadar membatasi usia pengguna tidak akan memadai untuk mengatasi dampak negatif dari media sosial. Ia mencatat bahwa Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang menerapkan pembatasan semacam ini; negara-negara seperti Australia, China, Uni Eropa, Amerika, dan Vietnam juga telah melakukan hal serupa dengan tujuan yang sama, yakni melindungi anak-anak dari konten berbahaya.
Kurangnya Efektivitas Pembatasan Usia
Gilang menekankan bahwa anak-anak di zaman sekarang memiliki kemampuan digital yang tinggi dan cenderung mencari cara untuk mengakses platform media sosial meskipun ada pembatasan. Ia menyatakan, “Semakin sesuatu dilarang, semakin besar keinginan untuk mencarinya. Anak-anak saat ini sangat mahir; mereka dapat menggunakan VPN atau metode lain untuk tetap terhubung.” Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas strategi pembatasan usia tanpa adanya pendekatan alternatif yang lebih komprehensif.
Pentingnya Verifikasi Usia yang Aman
Gilang mengusulkan adanya mekanisme verifikasi usia yang tidak bergantung pada pengumpulan data pribadi yang sensitif. Salah satu opsi yang mungkin dapat diterapkan adalah sistem persetujuan orang tua. Dalam sistem ini, akun anak harus terhubung dengan akun orang tua untuk mendapatkan persetujuan, sehingga memungkinkan adanya kontrol dan pendampingan yang lebih baik.
- Sistem verifikasi tidak boleh mengharuskan pengguna menyerahkan data sensitif.
- Akun anak harus terhubung ke akun orang tua.
- Pendampingan orang tua sangat penting dalam penggunaan media sosial.
- Alternatif lain perlu dipertimbangkan untuk melindungi privasi anak.
- Penting untuk menjaga keamanan data pengguna selama proses verifikasi.
Risiko Kebocoran Data Pribadi
Dalam proses verifikasi usia, anak mungkin diminta untuk memberikan dokumen seperti KIA atau Kartu Keluarga kepada platform digital. Gilang mengingatkan bahwa ini dapat menimbulkan risiko kebocoran data yang tidak kalah serius. Hal ini menambah kompleksitas dalam upaya perlindungan yang seharusnya dilakukan untuk anak-anak.
Peran Media Sosial dalam Pembentukan Perilaku
Perusahaan media sosial memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk perilaku pengguna, termasuk anak-anak. Gilang menggarisbawahi kurangnya transparansi dalam algoritma yang digunakan oleh platform digital. Misalnya, konten dengan format pendek yang terus-menerus ditampilkan dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi anak.
- Minimnya transparansi algoritma dapat mengakibatkan dampak negatif.
- Profiling dan iklan personalisasi harus dibatasi untuk anak-anak.
- Konten yang ditampilkan sering kali tidak memberikan ruang eksplorasi yang sehat.
- Praktik iklan yang terlalu agresif dapat meningkatkan risiko kecanduan.
- Konten yang dipersonalisasi seharusnya tidak diterapkan pada anak-anak.
Akibat Negatif dari Iklan Personalisasi
Gilang menekankan bahwa iklan yang dipersonalisasi berdasarkan kebiasaan dan minat pengguna dapat membuat anak-anak terjebak dalam pola konsumsi konten yang sempit. “Konten yang ditawarkan pasti berisi hal-hal yang mereka sukai, sehingga mereka tidak bisa lepas dari itu. Oleh karena itu, iklan dan profiling ini perlu dibatasi, bahkan untuk anak-anak, profil mereka tidak perlu diungkap,” ujarnya.
Tanggung Jawab Perusahaan Media Sosial
Perusahaan media sosial juga harus bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang mungkin timbul dari penggunaan platform mereka. Gilang mencontohkan kasus di mana anak-anak berisiko berkenalan dengan orang asing, hingga potensi kekerasan. Ia berpendapat bahwa tidak hanya pelaku yang seharusnya mendapatkan hukuman, tetapi juga perusahaan media sosial yang menyediakan platform tersebut.
Kecanduan Digital dan Pengaruhnya
Kecanduan digital bukanlah masalah yang hanya dihadapi oleh anak-anak; orang dewasa juga terpengaruh. Gilang menunjukkan bahwa kebutuhan sehari-hari, seperti transportasi dan pembelajaran daring, membuat anak-anak semakin tergantung pada perangkat digital. “Kini gadget telah menjadi hal yang lumrah, sama halnya dengan media sosial. Terlebih lagi, banyak konten di televisi yang kurang menarik. Jadi, di mana konten edukatif untuk anak-anak?” tanyanya.
Pentingnya Perbaikan Sistem Algoritma
Alih-alih hanya membatasi akses, Gilang menyarankan agar perusahaan media sosial melakukan perbaikan pada sistem algoritma mereka agar lebih ramah bagi anak-anak dan lebih transparan. “Penyaringan konten sebaiknya disesuaikan dengan usia pengguna berdasarkan data yang diverifikasi dan dengan pengetahuan orang tua,” ujarnya. Hal ini akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak saat menjelajahi dunia digital.
Menyiapkan Anak untuk Usia Remaja
Gilang juga memperingatkan bahwa pembatasan yang terlalu ketat dapat menciptakan efek kejutan ketika anak-anak mencapai usia 16 tahun dan tiba-tiba terpapar konten komersial tanpa persiapan. Oleh karena itu, peran keluarga dan sekolah dalam pendampingan sangatlah penting. “Anak-anak adalah tanggung jawab utama, sehingga kolaborasi antara orang tua dan institusi pendidikan sangat diperlukan,” tegasnya.
Pentingnya Literasi Digital
Literasi digital harus menjadi bagian dari pendidikan anak-anak dan orang tua. Gilang mengusulkan edukasi terbuka bagi orang tua dan guru mengenai penggunaan media sosial yang aman. Contohnya, dengan merekomendasikan aplikasi kontrol orang tua atau perangkat yang lebih ramah anak. “Ketika anak-anak mulai masuk PAUD, guru bisa memberikan arahan kepada orang tua untuk menggunakan aplikasi kontrol dari rumah atau merekomendasikan perangkat yang lebih aman untuk anak,” jelasnya.
Kolaborasi untuk Perlindungan Anak
Gilang menekankan pentingnya pendekatan kebijakan yang berbasis pada penelitian ilmiah dan melibatkan berbagai pihak. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan tersebut mencakup masyarakat, perguruan tinggi, kalangan akademisi, serta LSM yang fokus pada perlindungan anak. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan langkah-langkah lain di luar sekadar pembatasan usia dalam merumuskan kebijakan perlindungan anak terkait teknologi digital.
Dalam menghadapi tantangan di era digital ini, perlu ada kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi anak-anak. Dengan langkah-langkah yang terintegrasi, kita dapat memastikan bahwa anak-anak tidak hanya terlindungi dari bahaya, tetapi juga dapat mengambil manfaat dari teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab.
➡️ Baca Juga: Latihan Gym Pemula untuk Membangun Tubuh Kuat dan Stabil Tanpa Risiko Cedera
➡️ Baca Juga: Transfer Marcus Rashford ke Barcelona Terhambat oleh Masalah Gaji dan Status Lewandowski




