Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus Mengupas Makna Hidup Secukupnya dalam “Juara Dua”

Dalam dunia yang semakin kompetitif, sering kali kita terjebak dalam persepsi bahwa menjadi yang terbaik adalah satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan. Namun, Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus lewat lagu terbaru mereka yang berjudul “Juara Dua” mengajak kita untuk merenungkan makna hidup secukupnya. Lagu ini, yang merupakan single keempat dari EP mereka yang berjudul Garis Tegak, menyoroti pentingnya menemukan kedamaian dalam posisi yang tidak selalu berada di puncak. Dengan menggali tema ambisi dan ketenangan, mereka memberikan perspektif baru tentang bagaimana seharusnya kita menilai kesuksesan dan kebahagiaan.
Pesan Mendalam di Balik “Juara Dua”
“Juara Dua” bukan sekadar sebuah lagu, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan dan eksistensi. Bagi Lafa, posisi sebagai “juara dua” tidak harus dianggap sebagai sebuah kegagalan. Justru, hal ini merupakan pilihan yang dapat membawa kita kepada kehidupan yang lebih tenang dan bahagia. Dengan tema resiliensi yang menjadi payung proyek Garis Tegak, lagu ini mengajak pendengar untuk memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu berhubungan dengan pencapaian besar.
Ari Lesmana, salah satu kolaborator dalam proyek ini, mencurahkan pengalaman pribadinya mengenai ritme kerja yang sangat cepat. Dalam kepadatan aktivitas tersebut, ia mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang dikejar dalam hidupnya. Dengan jujur, ia menyatakan bahwa ketenangan dan kehidupan yang dijalani secukupnya jauh lebih penting dibandingkan dengan mengejar predikat sebagai yang terbaik. “Gak perlu validasi juga, gak perlu apa-apa gitu,” ungkap Ari, mengindikasikan bahwa pencarian akan kebahagiaan seharusnya tidak memerlukan pengakuan dari orang lain.
Kecenderungan Musik yang Terburu-buru
White Chorus juga merasakan kegelisahan yang serupa dalam industri musik saat ini. Banyak musisi, mereka amati, cenderung terburu-buru dalam menciptakan dan merilis karya, seolah-olah ada sebuah perlombaan untuk menjadi yang terdepan. “Kita tuh gak lomba sama orang lain,” jelas mereka, menegaskan bahwa meskipun memiliki tujuan dalam berkarya itu penting, pencapaian tersebut tidak perlu dibandingkan dengan orang lain.
Proses Kreatif di Balik “Juara Dua”
Secara musikal, “Juara Dua” lahir dari sebuah proses kolaboratif yang unik. White Chorus memulai dengan membawa enam pilihan beat untuk dikembangkan. Salah satu dari beat tersebut — draft keenam — menjadi titik awal lagu. Meskipun awalnya dianggap tidak sesuai dengan konsep EP yang lebih elektronik, Ari tertarik pada melodi dan karakter mentah dari materi tersebut. Setelah mendengarkan beberapa pilihan, mereka sepakat untuk mengembangkan draft yang dipilih bersama.
Proses pengembangan lagu ini juga membawa beberapa perubahan yang tak terduga bagi White Chorus. Salah satunya adalah penambahan segmen yang lebih tenang dengan permainan gitar akustik, serta perubahan nada di tengah pola yang sebelumnya repetitif. Ari melihat perubahan ini sebagai titik di mana karakter Lafa, dirinya, dan White Chorus mulai menyatu, memperkuat gagasan bahwa setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing.
Perubahan Dinamis dalam Komposisi
Dalam proses produksi, karakter drum break dari materi yang awal tetap dipertahankan. Namun, sampel drum yang sebelumnya digunakan diolah kembali menjadi permainan drum baru yang lebih kaya. Lafa menjelaskan bahwa proses pengerjaan “Juara Dua” berlangsung dalam dua pertemuan utama. Pertemuan pertama berfokus pada membangun musik dan melodi melalui berbagai referensi yang saling dipertukarkan. Pada pertemuan kedua, mereka mulai mengembangkan lirik dari potongan-potongan percakapan yang dicatat oleh Lafa.
Dalam tahap ini, Lafa berperan sebagai penghubung gagasan dari masing-masing kolaborator. Pengalaman bersama menjadi fondasi utama dalam penulisan lagu, menciptakan cerita yang kaya dan relevan dengan tema makna hidup secukupnya.
Harmoni dalam Vokal
Kolaborasi tidak hanya mempengaruhi struktur musik, tetapi juga komposisi vokal. Ari memutuskan untuk menambahkan suaranya di bawah rekaman Clara Friska Adinda yang telah dibuat sebelumnya. Melalui proses ini, mereka menemukan kecocokan yang harmonis, di mana Friska mendapatkan ruang untuk bersinar sementara suara Ari tetap terdengar kuat di register rendah. Kedua penyanyi saling berbagi register, menciptakan keunikan dalam vokal yang tetap dalam satu konteks cerita.
Makna yang Terbuka untuk Penafsiran
Akhirnya, “Juara Dua” lahir dari proses kolaborasi yang kuat, dan bukan hanya karena Lafa ingin menempatkan tema emosional lagu sebagai bagian dari urutan rilisan EP. Ia memilih untuk tidak mengunci satu tafsir tertentu bagi pendengar, membiarkan setiap orang menemukan makna mereka sendiri dalam lagu tersebut. Bagi Ari, menjadi “Juara Dua” terasa sangat relevan, terutama ketika pilihan itu membawa kebahagiaan dan ketenangan. “Seperlunya, secukupnya itu sih,” tutup Ari, menekankan bahwa hidup tidak harus selalu dalam kecepatan tinggi.
Peluncuran dan Harapan di Balik Lagu
“Juara Dua” resmi dirilis pada 6 Oktober 2026 di berbagai platform musik digital, bersamaan dengan rilis video lirik resminya. Video musiknya dijadwalkan menyusul satu minggu kemudian melalui kanal YouTube KithLabo. Dengan menghadirkan makna hidup secukupnya, lagu ini tidak hanya menjadi sebuah karya seni, tetapi juga sebuah ajakan untuk merenungkan kembali arti kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.
Dengan pendekatan yang lebih reflektif dan mendalam, “Juara Dua” mengajak pendengar untuk meresapi setiap lirik dan melodi, serta menemukan kedamaian dalam setiap langkah yang diambil. Dalam dunia yang sering kali mengukur nilai seseorang dari pencapaian, lagu ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bisa ditemukan tanpa harus selalu menjadi yang pertama.
➡️ Baca Juga: Pemkab Bandung Rancang 20 Infrastruktur Pengendali untuk Atasi Banjir di Titik Rawan
➡️ Baca Juga: Ribuan Umat Katolik Menghadiri Misa Kamis Putih di Katedral dengan Khidmat




