Merasa sehat dan aktif dalam keseharian tidak selalu berarti seseorang terbebas dari risiko penyakit jantung dan stroke. Hipertensi, yang sering kali tidak menunjukkan gejala, dan atrial fibrillation (AFib), yang dapat muncul tanpa disadari, adalah dua kondisi yang dapat mengintai di balik tampaknya sehatnya seseorang. Keduanya berpotensi meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk stroke, yang dapat mengancam nyawa.
Pentingnya Kesadaran Terhadap Penyakit Jantung
Penyakit kardiovaskular sering kali berkembang tanpa gejala yang jelas, sehingga banyak orang tidak menyadari kondisi kesehatan mereka. Menjelang Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September, perhatian terhadap isu ini semakin mendesak. Tahun ini, tema yang diusung oleh World Heart Federation adalah “Penyakit Jantung Tersembunyi di Depan Mata: Jangan Lewatkan Detak Jantung,” yang mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda dan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang sering kali terlewatkan.
Statistik Hipertensi di Indonesia
Menurut Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan pengukuran tekanan darah. Namun, angka ini jauh berbeda dengan prevalensi yang tercatat melalui diagnosis dokter, yaitu hanya 8,6 persen. Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa banyak orang yang menderita hipertensi tanpa menyadari kondisi kesehatan mereka, yang berpotensi menimbulkan risiko serius di kemudian hari.
Kaitan Antara Hipertensi, AFib, dan Stroke
Hipertensi tidak hanya sekadar berkaitan dengan tingginya tekanan darah, tetapi juga merupakan faktor risiko utama untuk berbagai gangguan kardiovaskular, termasuk atrial fibrillation (AFib). AFib adalah kondisi yang ditandai dengan gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung tidak teratur. Hal ini diungkapkan oleh dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, seorang spesialis penyakit dalam konsultan ginjal-hipertensi.
“Hipertensi yang berlangsung lama dapat memberikan beban berat pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan irama jantung seperti AFib,” jelas dr. Decsa. Dalam kondisi AFib, detak jantung yang tidak teratur dapat mengakibatkan aliran darah dalam jantung menjadi tidak optimal, sehingga meningkatkan risiko pembentukan bekuan darah.
Komplikasi yang Dapat Muncul
“Jika bekuan darah tersebut terbawa ke otak, hal ini dapat memicu terjadinya stroke. Oleh karena itu, mengendalikan tekanan darah dan memahami kondisi irama jantung sangat penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular,” tegasnya.
Keterkaitan antara hipertensi, AFib, dan stroke juga didukung oleh penelitian yang dilakukan di Framingham oleh Wolf dkk. (1991) yang melibatkan 5.070 peserta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hipertensi dapat meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat, sementara AFib dapat meningkatkan risiko stroke hampir lima kali lipat.
Pengalaman Penyintas Stroke
Pengalaman nyata dari penyintas stroke, seperti Iwet Ramadhan, mencerminkan pentingnya mengenali kondisi kesehatan sebelum komplikasi muncul. Iwet, yang merupakan seorang pengusaha dan Kepala Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia, berbagi pengalamannya sebagai penyintas stroke yang mengubah pandangannya terhadap kesehatan.
“Saya telah merasakan sendiri bagaimana masalah kesehatan dapat mengubah hidup. Setelah mengalami stroke, saya menyadari bahwa merasa sehat dan tetap aktif tidak berarti kita mengetahui kondisi kesehatan kita secara menyeluruh,” ungkap Iwet. Ia berharap masyarakat tidak perlu menunggu mengalami pengalaman serupa untuk mulai memprioritaskan kesehatan jantung mereka.
Kebiasaan Sehat dan Pemantauan Kesehatan
Pentingnya menjaga kebiasaan sehat diiringi dengan pemantauan kesehatan secara rutin. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk menjaga kesehatan jantung:
- Rutin memeriksakan tekanan darah dan kadar kolesterol.
- Menerapkan pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian.
- Melakukan aktivitas fisik secara teratur, setidaknya 150 menit per minggu.
- Menghindari rokok dan mengurangi konsumsi alkohol.
- Menjaga berat badan ideal dan mengelola stres.
Menerapkan kebiasaan sehat yang berkelanjutan dapat membantu menurunkan risiko hipertensi, AFib, dan komplikasi serius lainnya. Kesadaran akan kondisi kesehatan, meskipun tidak ada gejala yang jelas, merupakan langkah awal yang penting untuk menjaga kesehatan jantung dan mencegah penyakit kardiovaskular.
➡️ Baca Juga: Desta Mundur dari Vindes Corp, Vincent Rompies Ambil Alih Kepemimpinan Perusahaan
➡️ Baca Juga: Atasi Sembelit dengan Rutin Mengonsumsi Semangka, Kaya Air dan Serat untuk BAB Lancar
