Gubernur Banten Andra Soni Santap Laksa Bersama 1.552 Warga di Seba Badui

Di tengah keragaman budaya dan tradisi yang ada di Indonesia, acara yang melibatkan interaksi langsung antara pemerintah dan masyarakat adat memiliki makna yang mendalam. Gubernur Banten, Andra Soni, baru-baru ini menggelar sebuah tradisi unik bernama “mumuluk bareng”, yang berarti sarapan bersama, dengan 1.552 warga dari komunitas adat Badui. Acara ini berlangsung dalam rangkaian perayaan Seba Badui 2026 di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, pada hari Minggu, 26 April. Dalam suasana yang penuh keakraban ini, Gubernur Banten dan masyarakat Badui menunjukkan bahwa hubungan antara pemerintah dan masyarakat dapat terjalin dengan harmonis.

Makna Tradisi Mumuluk Bareng

Kegiatan “mumuluk bareng” bukan hanya sekadar acara makan bersama; melainkan merupakan simbol dari kebersamaan dan keharmonisan antara Gubernur Banten dan masyarakat adat Badui. Interaksi seperti ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga dan menghormati berbagai tradisi serta budaya lokal yang ada di provinsi ini.

Menu Laksa Badui yang Istimewa

Salah satu daya tarik dalam acara ini adalah sajian kuliner khas dari masyarakat Badui, yaitu laksa Badui. Hidangan ini memiliki cita rasa yang unik dan selalu dihadirkan oleh masyarakat adat saat merayakan Seba. Laksa Badui terbuat dari tepung beras padi huma yang dibungkus dengan pelepah pinang, memberikan tekstur yang khas dan berserat, mirip dengan mi. Hidangan ini disajikan dalam bentuk bubur, dilengkapi dengan sayur umbut rotan (umbut pait) dan lalapan kecipir yang menyegarkan.

Gubernur Andra Soni menyampaikan bahwa hidangan tersebut adalah hasil dari tradisi yang telah dilakukan oleh masyarakat Badui selama bertahun-tahun, dan merupakan makanan yang selalu dinanti-nantikan setelah mereka menjalani puasa selama tiga bulan dalam tradisi Kawalu. “Makanannya seperti yang biasa kita makan, yaitu laksa. Makanan khusus ini dibuat setelah masyarakat Badui melaksanakan puasa selama tiga bulan atau tradisi Kawalu,” ungkapnya.

Interaksi yang Berarti

Dalam suasana santai usai menikmati hidangan, Gubernur Andra Soni terlihat berbincang dengan para Jaro, yang merupakan tokoh adat setempat, serta warga Badui. Obrolan yang penuh keakraban ini semakin memperkuat rasa persatuan antara pemerintah dan masyarakat adat. Keberadaan Gubernur di tengah-tengah mereka menunjukkan bahwa pemerintah peduli dan berkomitmen untuk mendengarkan aspirasi masyarakat.

Respon Positif dari Masyarakat Badui

Antusiasme masyarakat Badui terhadap acara ini sangat terasa. Jaro Dangka Sirah Dayeh, Olot Sarif, menyampaikan bahwa momen sarapan bersama ini memberikan rasa diterima dan dihargai oleh jajaran Pemprov Banten. “Kami sangat senang. Merasa diterima oleh pemerintah. Benar-benar diterima,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

Olot Sarif juga menambahkan bahwa perayaan Seba Badui tahun ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Komunikasi antara masyarakat dan kepala daerah kini lebih terbuka, dengan interaksi yang lebih akrab dan tanpa jarak. “Sekarang berbeda dengan zaman dulu, sekarang itu pemerintah yang mencari dan merangkul masyarakat,” tuturnya.

Keberadaan Pejabat Pemprov Banten

Acara ini tidak hanya dihadiri oleh Gubernur Banten, tetapi juga dihadiri oleh sejumlah pejabat penting lainnya. Di antara mereka adalah Ketua TP PKK Provinsi Banten, Tinawati Andra Soni, Sekretaris Daerah Provinsi Banten, Deden Apriandhi, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Banten, Ameriza M. Moesa. Kehadiran mereka menegaskan dukungan dan perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan tradisi dan budaya masyarakat adat, khususnya Badui.

Perayaan Seba Badui: Lebih dari Sekadar Tradisi

Seba Badui merupakan tradisi yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Badui sebagai bentuk penghormatan kepada pemerintah dan sebagai sarana untuk memperkuat hubungan sosial. Dalam perayaan ini, masyarakat Badui berkumpul untuk menyampaikan aspirasi dan harapan mereka kepada pemerintah. Tradisi ini juga menjadi momen penting untuk menunjukkan identitas dan kekayaan budaya daerah.

Kesimpulan: Membangun Jembatan Antara Pemerintah dan Masyarakat

Acara sarapan bersama Gubernur Banten, Andra Soni, dengan 1.552 warga Badui merupakan contoh nyata bagaimana pemerintah dapat membangun jembatan komunikasi yang solid dengan masyarakat adat. Melalui tradisi seperti ini, tidak hanya nilai-nilai budaya yang dijaga, tetapi juga rasa saling menghormati dan pengertian antara kedua belah pihak. Dengan semakin terbukanya interaksi, diharapkan dapat tercipta kerjasama yang lebih baik dalam melestarikan budaya dan mendukung pembangunan daerah.

Inisiatif Gubernur Banten dan para pejabat untuk hadir dalam tradisi ini menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mendengarkan suara masyarakat dan berupaya menciptakan hubungan yang lebih erat dengan komunitas adat. Hal ini tentunya akan memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah dan pelestarian budaya. Seiring berjalannya waktu, diharapkan semangat kebersamaan ini dapat menjadi teladan bagi daerah lain dalam menjalankan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat.

➡️ Baca Juga: IHSG Hari Ini Melemah Terkait Sentimen Global, MSCI Menahan Rebalancing Saham Indonesia

➡️ Baca Juga: Strategi Tim Sepak Bola Mengelola Tekanan Kompetisi Beruntun dan Tetap Fokus

Exit mobile version