Gejala dan Prosedur Operasi Katarak Menurut Spesialis Mata yang Perlu Anda Ketahui

Katarak merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi ketika lensa mata yang seharusnya jernih menjadi keruh, sehingga menghambat cahaya yang masuk. Jika tidak diobati, katarak dapat menyebabkan kehilangan penglihatan yang signifikan.
Pentingnya Memahami Gejala Katarak
Perkembangan katarak biasanya berlangsung secara bertahap. Meskipun prosesnya lambat, penting untuk tetap waspada karena dapat berakibat pada penurunan penglihatan yang signifikan. Ketika gangguan penglihatan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, operasi katarak menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.
“Katarak adalah kondisi di mana kejernihan lensa mata berkurang, yang menyebabkan gangguan pada penglihatan. Umumnya, gejala ini berkembang perlahan dan tidak terasa mengganggu di awal. Namun, pada beberapa tipe seperti katarak traumatik, perkembangan bisa lebih cepat,” ungkap dr. Amir Shidik, Sp.M, Subsp.K.B.R., Dokter Spesialis Mata Subspesialis Katarak dan Bedah Refraksi di RS Pondok Indah – Pondok Indah.
Katarak dapat mempengaruhi satu atau kedua mata, tetapi kekeruhan pada lensa tidak menular dari satu mata ke mata lainnya. Seiring bertambahnya usia, kondisi ini bisa semakin parah dan mengganggu penglihatan, sehingga penderita mengalami kesulitan dalam menjalani kegiatan sehari-hari.
Prevalensi katarak mencapai sekitar 50% pada individu berusia 52 hingga 64 tahun dan meningkat hingga 70% pada mereka yang berusia 70 tahun ke atas. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan mata secara rutin, terutama bagi populasi lansia, untuk mendeteksi kekeruhan lensa lebih awal sebelum berdampak negatif pada kualitas penglihatan dan kemandirian mereka.
Gejala Umum Katarak
Gejala katarak dapat bervariasi, tetapi umumnya penderita melaporkan mengalami pandangan yang kabur, berasap, atau tampak seperti melihat melalui kaca yang kotor. Rasa silau juga sering dirasakan saat mengemudi di malam hari, pada saat hujan, atau di lingkungan yang terang.
Perubahan persepsi warna juga dapat terjadi seiring perkembangan katarak. Penglihatan sering kali semakin buram, ukuran kacamata yang digunakan mungkin perlu disesuaikan, dan dalam beberapa kasus, penderita mengalami fenomena yang disebut “second sight”, di mana penglihatan dekat terasa lebih baik meskipun penglihatan jauh menurun. Pada tahap lanjut, titik putih pada lensa mata bisa terlihat, tetapi biasanya tidak disertai rasa nyeri atau kemerahan pada mata.
Faktor Risiko yang Meningkatkan Katarak
Beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan katarak. Faktor utama adalah usia lanjut dan paparan sinar ultraviolet. Di samping itu, riwayat trauma pada mata, operasi sebelumnya, atau peradangan pada mata juga bisa memicu munculnya katarak.
- Usia lanjut
- Paparan sinar ultraviolet
- Riwayat trauma atau operasi mata
- Peradangan pada mata
- Kondisi medis tertentu seperti diabetes
Faktor lain yang perlu diperhatikan termasuk penggunaan obat-obatan steroid, baik untuk pengobatan asma, penyakit autoimun, maupun gangguan sendi. Konsumsi jamu yang mengandung steroid juga dapat berkontribusi. Selain itu, kondisi kesehatan seperti diabetes dan obesitas, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, turut meningkatkan risiko pengembangan katarak.
Proses Diagnostik Katarak
Dalam diagnosis katarak, dokter spesialis mata akan melakukan anamnesis untuk memahami gejala yang dihadapi pasien, riwayat penggunaan obat, serta kondisi kesehatan lainnya yang menyertai. Setelah itu, pemeriksaan mata menyeluruh dilakukan untuk menilai ketajaman penglihatan, derajat kekeruhan lensa melalui biomikroskopi, serta mengevaluasi kondisi retina dan saraf mata untuk memastikan bahwa tidak ada penyebab lain dari gangguan penglihatan yang dirasakan.
Sebelum prosedur operasi, pasien akan menjalani pemeriksaan biometri. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengukur panjang aksial bola mata dan kekuatan kornea, guna menentukan kekuatan lensa tanam atau intraocular lens (IOL) yang paling tepat. Setiap individu memiliki karakteristik mata yang berbeda, sehingga perhitungan ini harus dilakukan dengan akurat agar hasil penglihatan setelah operasi dapat optimal.
Operasi Sebagai Solusi Akhir
Saat ini, satu-satunya metode efektif untuk menangani katarak adalah melalui operasi. Tindakan ini dapat dilakukan pada setiap tahap kekeruhan lensa, tanpa perlu menunggu hingga katarak mencapai fase “matang”. Hingga kini, belum ada obat yang terbukti mampu menghilangkan kekeruhan lensa tanpa melalui tindakan operasi.
Prosedur operasi katarak biasanya berlangsung cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit. Lensa yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa buatan, sehingga penglihatan dapat kembali jernih.
Teknik Operasi yang Digunakan
Berbagai teknik operasi digunakan untuk menangani katarak, antara lain ekstraksi katarak intrakapsular, ekstraksi katarak ekstrakapsular, manual small incision cataract surgery (MSICS), fakoemulsifikasi, dan femto laser assisted cataract surgery (FLACS). Secara umum, operasi katarak memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi, membuatnya menjadi pilihan utama dalam penanganan penyakit ini.
➡️ Baca Juga: Pahami Alasan Mengapa Anak Suka Menggigit, Penting untuk Orang Tua Ketahui
➡️ Baca Juga: Santri Bogor Dilepas ke Pesantren Gontor, Wakil Bupati Tekankan Pentingnya Warisan Ilmu

