Dua Astronom, Sejarawan, dan Penulis Menegaskan Pentingnya Peran Penulis dalam Peradaban Manusia

Jakarta – Musyawarah Nasional Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea dibuka dengan cara yang menarik dan memberikan kesan mendalam. Acara ini menyadarkan para penulis akan betapa pentingnya peran penulis dalam memelihara keseimbangan perkembangan peradaban manusia, terutama di tengah pesatnya kemajuan teknologi, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Memahami Pentingnya Peran Penulis
Pernyataan ini muncul dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Penulis Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak di Era Disrupsi.” Diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh, termasuk dua astronom terkemuka, Karlina Supeli dan Premana Wardayanti Premadi, sejarawan dan budayawan Hilmar Farid, serta penulis dan musisi Dee Lestari. Acara berlangsung di Teater Utan Kayu, Jakarta, pada hari Sabtu, 5 September.
Format diskusi yang diusung sangat menarik, di mana para pembicara memberikan presentasi secara berurutan dengan gaya monolog, diikuti dengan sesi panel dan interaksi aktif dengan audiens. Debra H. Yatim berperan sebagai moderator yang handal, memandu jalannya diskusi dengan baik. Selain pengurus Alinea, banyak kolega para pembicara juga turut hadir, sehingga ruang teater Utan Kayu dipenuhi oleh peserta diskusi.
Pemetabolisme Dunia Melalui Penulisan
Dee Lestari, yang sebelumnya dikenal sebagai musisi, tampil di urutan keempat dan membawakan materi dengan tema “Penulis Memetabolisme Dunia.” Ia menjelaskan bagaimana proses penulisan berlangsung. Dee menggunakan metafora untuk menggambarkan bahwa penulis berfungsi seperti sistem pencernaan yang memetabolisme dunia.
Setiap informasi yang diterima, dicerna, diuraikan, dan dikombinasikan dengan elemen lain, kemudian diubah menjadi bentuk baru. Karya yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan realitas yang ada, tetapi juga mengalami transformasi saat dituangkan ke dalam bentuk cerita.
“Rasa ingin tahu adalah salah satu organ terpenting bagi penulis. Ini adalah modal utama dalam tahap awal proses kreatif, yaitu keinginan dan keterbukaan untuk menyerap informasi. Sumber tulisan bisa berasal dari berbagai tempat, seperti pengalaman pribadi, percakapan yang tidak disengaja, hingga berita yang kita baca,” ungkap Dee.
Penulis serial novel Supernova ini menjelaskan bahwa dunia tidak masuk ke dalam karya dengan keadaan utuh. Sebaliknya, ia masuk layaknya kain perca, terdiri dari potongan-potongan pengalaman, kegelisahan, pengetahuan, ingatan, dan ketertarikan, yang terkadang juga menyangkut luka. Semua elemen ini bercampur dengan apa yang sudah ada dalam diri penulis—yang sering kali ia sebut sebagai “filter unik”—cara pandang penulis, sejarah pribadi, serta berbagai pertanyaan yang belum terjawab, bahkan kemungkinan adanya bias yang tidak disadari. Selain itu, situasi sosial, lingkungan, sejarah, dan teknologi juga turut memengaruhi proses penulisan.
Menjelajahi Wilayah Baru Melalui Penulisan
“Saya seringkali menjelajahi tema-tema yang pada awalnya tidak saya kuasai. Dalam Serial Supernova, saya menyentuh bidang sains, filsafat, psikologi, spiritualitas, serta pertanyaan-pertanyaan besar tentang kesadaran dan eksistensi. Dalam Aroma Karsa, saya mendalami dunia penciuman, botani, ekologi, mitologi, dan berbagai pengetahuan lain yang tidak menjadi bagian dari keseharian saya. Menulis memberikan saya alasan untuk belajar,” tegas Dee.
Pentingnya Mencatat Perubahan Sosial
Di sisi lain, Hilmar Farid, seorang sejarawan yang juga dikenal sebagai budayawan, menyoroti sejumlah perubahan dalam kebiasaan dan tradisi di Indonesia, khususnya dalam bidang pertanian. Ia menjelaskan bagaimana proses modernisasi, yang dikenal sebagai revolusi hijau, yang berlangsung pada awal Orde Baru hingga tahun 1980-an, bertujuan untuk mencapai swasembada pangan.
Tujuan tersebut tercapai, bahkan Presiden Soeharto mendapatkan penghargaan berupa medali emas dan piagam dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) pada 22 Juli 1986. Namun, di balik pencapaian tersebut, kebiasaan dan tradisi, termasuk perayaan panen, mulai memudar seiring dengan beralihnya fungsi manusia kepada mesin.
“Akar budaya masyarakat kita, seperti yang tergambar dalam alat pertanian bernama ani-ani, mulai hilang. Jika penulis tidak mendokumentasikan cerita ini, generasi sekarang dan mendatang tentu tidak akan mengetahuinya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi, terutama perubahan sosial, sekecil apapun, sangat penting untuk dicatat. Inilah peran penulis yang memiliki dampak, terutama dalam mengingatkan,” ujar Hilmar, yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Ingatan, Perhatian, dan Masa Depan
Dalam konteks ini, Hilmar menekankan tiga aspek penting yang berkaitan dengan perubahan dan peran penulis: ingatan, perhatian, dan masa depan. Meskipun Presiden Soeharto menerima penghargaan atas keberhasilannya dalam mencapai swasembada pangan, ada perubahan sosial penting yang tidak terekam, yaitu hilangnya tradisi dan kebiasaan di kalangan masyarakat petani.
“Begitu juga dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), transformasi apa yang terjadi? Di mana posisi penulis? Kenapa ingatan publik hanya terfokus pada kasus korupsi, keracunan, dan salah administrasi?” tanya Hilmar, yang menggugah penulis untuk mencatat dan mendokumentasikan setiap perubahan, sekecil apapun, yang terjadi dalam masyarakat.
Komunikasi Alam Semesta dan Manusia
Dua astronom lulusan ITB Bandung, Karlina Supeli dan Premana Wardayanti, juga memberikan pandangan yang menarik, meskipun disampaikan dengan bahasa yang lembut dan tenang. Keduanya berhasil menggambarkan gerakan alam semesta dan hubungan manusia dengan dunia, yang sangat menginspirasi. Mereka menegaskan pentingnya ‘komunikasi’ antara alam semesta dan manusia.
Dalam pandangan mereka, peran penulis tidak hanya terbatas pada pencatatan peristiwa, tetapi juga menciptakan jembatan antara pengetahuan alam semesta dan pemahaman manusia. Penulis diharapkan dapat menyampaikan pesan-pesan penting dari alam, yang sering kali terabaikan dalam kesibukan sehari-hari.
Dengan demikian, penulis memiliki tanggung jawab yang besar dalam menginterpretasikan dan menyampaikan informasi yang dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap lingkungan dan peradaban. Hal ini menunjukkan bahwa peran penulis dalam peradaban manusia lebih dari sekadar menciptakan karya sastra, tetapi juga sebagai agen perubahan yang dapat membentuk kesadaran kolektif.
Menjaga Keseimbangan Melalui Penulisan
Peran penulis dalam peradaban manusia sangat krusial, terutama di era di mana informasi dapat dengan mudah terdistorsi oleh teknologi dan media sosial. Dalam konteks ini, penulis perlu berperan aktif dalam menjaga keseimbangan antara informasi yang akurat dan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka harus mampu menjadi suara yang kritis dan reflektif, menawarkan perspektif yang dapat mengajak masyarakat untuk berpikir lebih dalam dan merenungkan kondisi sosial yang ada.
Sejalan dengan perkembangan zaman, penulis juga dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa kehilangan esensi dari karya-karya yang mereka ciptakan. Inovasi dalam penulisan, baik dalam bentuk digital maupun cetak, harus tetap mengedepankan kejujuran dan integritas dalam menyampaikan informasi.
Dengan demikian, peran penulis dalam peradaban manusia bukan hanya sekadar menciptakan karya, tetapi juga membangun jembatan antara pengetahuan, budaya, dan kesadaran sosial. Mereka adalah pilar yang mendukung peradaban, yang terus berkontribusi dalam membentuk masa depan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Longsor Menghancurkan Beberapa Desa di Kabupaten Bogor, BPBD Siaga Tanggap Bencana
➡️ Baca Juga: 35 Nama Hotspot Kreatif dan Menarik untuk Menarik Perhatian Pengunjung Nebeng




