Bank Dunia: AI Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di Asia Timur dan Pasifik

Dalam era digital yang terus berkembang, kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) menjadi sorotan utama sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Di kawasan Asia Timur dan Pasifik, potensi AI untuk mengubah lanskap ekonomi sangat besar. Bank Dunia menyoroti bagaimana teknologi ini dapat menjadi mesin penggerak bagi pertumbuhan di wilayah yang kaya akan dinamika ekonomi dan integrasi global ini.

Peluang Pertumbuhan Melalui AI

Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Carlos Felipe Jaramillo, menyatakan bahwa kawasan ini memiliki keunggulan strategis untuk memanfaatkan perkembangan AI. Posisi geografis dan ekonominya yang terintegrasi dalam rantai nilai global memberikan peluang besar bagi negara-negara di Asia Timur dan Pasifik untuk mengalami lonjakan pertumbuhan ekonomi.

Dalam laporan yang dirilis berjudul East Asia and Pacific Economic Update Oktober 2026, Jaramillo mencatat, “Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI.”

Tantangan dalam Adopsi AI

Meski terdapat banyak peluang, tantangan dalam mengadopsi AI secara luas di kawasan ini tetap ada. Jaramillo menggarisbawahi bahwa transformasi keunggulan yang dimiliki menjadi adopsi teknologi yang signifikan adalah kunci untuk meningkatkan perekonomian. Tanpa langkah strategis, potensi AI tidak akan terwujud secara maksimal.

Jaramillo menekankan, “Tantangan saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas.”

Potensi Negara-Negara di Kawasan

Beberapa negara di Asia Timur dan Pasifik telah mulai merasakan manfaat dari peningkatan aktivitas AI global. Pengembangan dan ekspor barang-barang berteknologi tinggi menjadi salah satu pendorong utama investasi dalam sektor ini. Namun, adopsi AI yang tidak merata di seluruh kawasan menjadi perhatian. Secara umum, penetrasi AI di negara-negara berkembang masih jauh di belakang negara-negara maju.

Franziska Ohnsorge, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, mencatat bahwa Indonesia, misalnya, memiliki eksposur yang lebih rendah terhadap lonjakan aktivitas AI dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan. Dia menyatakan, “Khusus untuk Indonesia, ini menarik. Indonesia relatif lebih sedikit terpapar dibandingkan negara-negara lain terhadap lonjakan aktivitas global yang berkaitan dengan AI ini.”

Kekuatan Permintaan Domestik Indonesia

Durabilitas ekonomi Indonesia justru terletak pada kekuatan permintaan domestik. Menurut Ohnsorge, hal ini berfungsi sebagai penopang utama bagi pertumbuhan ekonomi. “Yang benar-benar kuat di (ekonomi) Indonesia adalah permintaan domestik. Hal itulah yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan ini adalah hal yang sedikit membedakannya dari negara-negara lain di kawasan,” jelasnya.

Manfaat Jangka Pendek dari Small AI

Sarvesh Suri, Wakil Presiden Regional IFC untuk Asia dan Pasifik, menjelaskan bahwa negara-negara berkembang memiliki peluang besar untuk meraih manfaat dari adopsi teknologi AI yang lebih kecil, yang disebut sebagai Small AI. Teknologi ini dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), tanpa memerlukan investasi besar dalam teknologi mutakhir.

Dengan memanfaatkan Small AI, perusahaan-perusahaan di kawasan ini dapat melakukan inovasi yang lebih cepat dan efektif. Ini menciptakan jalan bagi mereka untuk bersaing di pasar global dan meningkatkan efisiensi operasional mereka.

Pentingnya Infrastruktur Digital dan Pembiayaan

Laporan dari Bank Dunia juga menekankan perlunya dukungan terhadap infrastruktur digital dan energi, yang merupakan faktor krusial dalam memperluas adopsi AI. Investasi dalam pembiayaan dan pengembangan keterampilan sangat penting untuk memastikan bahwa negara-negara di kawasan ini dapat memanfaatkan potensi penuh dari AI.

Dengan langkah-langkah ini, kawasan Asia Timur dan Pasifik akan lebih siap untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh AI.

Mewujudkan Masa Depan yang Lebih Sejahtera

Jaramillo menekankan bahwa jika negara-negara di Asia Timur dan Pasifik bersikap proaktif dan berani dalam mengadopsi AI, maka teknologi ini dapat menjadi pendorong yang kuat untuk menciptakan peluang, meningkatkan pendapatan, dan mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera bagi seluruh masyarakat. Dengan memanfaatkan AI secara efektif, kawasan ini dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup warganya.

Dengan kesadaran akan tantangan dan potensi yang ada, para pemangku kepentingan di setiap negara harus berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem yang mendukung adopsi AI dan memanfaatkan teknologi ini demi kebaikan bersama.

Kesimpulan

Dalam konteks ini, sangat penting bagi negara-negara di Asia Timur dan Pasifik untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan yang ada, tetapi juga untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi global. AI bukan hanya sekadar alat, tetapi juga merupakan kunci untuk membuka pintu menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di masa depan.

➡️ Baca Juga: Jakarta Siap Menyambut Liburan Lebaran dengan Berbagai Destinasi Menarik

➡️ Baca Juga: Aktivitas Gempa Susulan Terus Terjadi di Sumba, Simak Faktanya di Sini

Exit mobile version