Global Menghadapi Tantangan Berkelanjutan, Destry Ingatkan BI: Kebijakan Moneter Tak Cukup

Di tengah kompleksitas tantangan berkelanjutan yang dihadapi oleh ekonomi global, kebijakan moneter terpaksa berhadapan dengan tantangan berat dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Hal ini menambah dimensi baru pada pengelolaan ekonomi, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang.
Perubahan Dinamis di Pentas Global
Gejolak geopolitik, tekanan inflasi yang terus meningkat, perubahan kebijakan suku bunga di negara-negara maju, serta volatilitas pasar keuangan menjadi faktor yang semakin mempersempit ruang gerak bank sentral. Kondisi ini menciptakan tantangan berkelanjutan yang memerlukan perhatian dan strategi yang lebih komprehensif.
Bank Indonesia dihadapkan pada tugas untuk mengoptimalkan bauran kebijakan demi menjaga stabilitas nilai Rupiah dan inflasi, sambil memastikan likuiditas serta pembiayaan tetap mampu mendukung aktivitas ekonomi domestik. Tantangan ini semakin mendesak dengan adanya kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.
Pentingnya Kebijakan Moneter yang Efektif
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan bahwa dalam menghadapi tantangan berkelanjutan, ketergantungan pada kebijakan moneter semata tidak akan mencukupi. “Ruang pertumbuhan ekonomi masih ada, namun mengandalkan kebijakan moneter saja tidak akan efektif dalam situasi global yang semakin kompleks,” ungkap Destry dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta.
Dalam pandangannya, tantangan berkelanjutan yang dihadapi tidak hanya berasal dari inflasi, tetapi juga dari pengaruh kebijakan suku bunga yang ketat di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat. “Peluang untuk menurunkan suku bunga di negara-negara tersebut semakin kecil, sehingga Indonesia harus bersiap menghadapi dampaknya,” tambahnya.
Kondisi Ekonomi Global yang Mempengaruhi Indonesia
Meningkatnya imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat untuk tenor 10 tahun yang kini berada di kisaran 4,5-4,6 persen menjadi salah satu indikator bahwa kondisi ekonomi global sedang tidak menguntungkan. Dengan adanya peningkatan ini, ketidakpastian di pasar finansial semakin terasa dan mempengaruhi investor untuk memilih aset yang lebih aman.
- Gejolak geopolitik yang mempengaruhi kestabilan pasar.
- Tekanan inflasi yang tinggi di negara-negara maju.
- Peningkatan suku bunga yang merugikan pertumbuhan ekonomi.
- Volatilitas pasar keuangan yang menciptakan ketidakpastian.
- Perubahan nilai tukar yang berdampak pada perdagangan internasional.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Destry mengingatkan bahwa kondisi ini menuntut perhatian lebih dari para pembuat kebijakan di Indonesia. “Ketika inflasi meningkat, keputusan untuk menaikkan suku bunga juga akan berdampak pada perekonomian secara keseluruhan,” jelasnya.
Strategi yang Diperlukan untuk Menghadapi Tantangan
Dalam menghadapi tantangan berkelanjutan ini, Destry berpendapat bahwa instrumen suku bunga atau BI-Rate tidak cukup untuk mengatasi permasalahan ekonomi domestik. Meskipun suku bunga global meningkat, Indonesia harus tetap menarik minat investor asing agar aliran modal tetap masuk ke dalam negeri.
Ketidakpastian global menuntut Bank Indonesia untuk mengembangkan strategi baru yang tidak hanya bergantung pada perubahan suku bunga. “Kita perlu memadukan kebijakan moneter dengan kebijakan makroprudensial untuk mencapai hasil yang optimal,” kata Destry.
Pentingnya Kebijakan Makroprudensial
Bank sentral saat ini tengah mengoptimalkan kebijakan makroprudensial sebagai langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan stabilitas sistem keuangan dan mendorong sektor-sektor prioritas untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih baik.
Giro wajib minimum (GWM) untuk bank umum konvensional saat ini efektif berada di level 9 persen. Bank sentral memberikan insentif untuk menurunkan GWM, sehingga kelebihan likuiditas dapat digunakan kembali oleh perbankan untuk mendukung sektor-sektor yang lebih produktif.
- Optimalisasi kebijakan makroprudensial untuk meningkatkan likuiditas.
- Pemberian insentif untuk mengurangi GWM bank.
- Peningkatan akses pembiayaan untuk sektor prioritas.
- Stabilitas sistem keuangan sebagai prioritas utama.
- Penciptaan lingkungan yang kondusif bagi investasi.
Dengan langkah-langkah tersebut, Bank Indonesia berharap bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kebijakan yang terintegrasi antara moneter dan makroprudensial diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat.
Kesimpulan yang Menggugah
Dalam menghadapi tantangan berkelanjutan, penting bagi Indonesia untuk tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter. Memadukan berbagai instrumen kebijakan akan menjadi kunci untuk mencapai stabilitas ekonomi yang diinginkan. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan Indonesia dapat tetap tumbuh meskipun dalam kondisi global yang penuh tantangan.
➡️ Baca Juga: Polda Banten Mengungkap Kasus Pengoplosan LPG Subsidi di Lebak Secara Terperinci
➡️ Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 13,58% pada Juli 2026 Berkat Kebijakan Makroprudensial Longgar



