Hidayat Nur Wahid Dorong Civitas Akademika Tingkatkan Ilmu demi Menjadi Manusia Unggul

Jakarta – Dalam upaya mendorong kemajuan pendidikan dan keunggulan manusia, Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI, mengajak civitas akademika Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) untuk memperkuat pemahaman tentang ilmu dan amal. Menurutnya, kedua aspek ini adalah fondasi penting dalam membangun keunggulan umat dan kemanusiaan.
Makna Ideologi Al-Ma’un dalam Pendidikan
Hidayat menjelaskan bahwa semangat Muhammadiyah yang berakar pada ideologi Al-Ma’un menggarisbawahi pentingnya penerapan nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Ideologi ini menekankan integrasi antara iman, ilmu, dan amal dalam konteks sosial yang nyata.
“Ketika kita berbicara tentang iman, ilmu, amal, dan keunggulan, salah satu kata kuncinya adalah ideologi Al-Ma’un. Ini adalah konsep yang telah mentradisi di Muhammadiyah dan menjadi bagian dari tindakan nyata di masyarakat,” ungkapnya saat berkunjung ke UMJ.
Teladan dari Pendiri Muhammadiyah
Dia menekankan bahwa teladan yang ditunjukkan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai luhur dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Praktik ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam menciptakan perubahan yang bermanfaat.
Hidayat juga mengingatkan bahwa tradisi ini perlu dilestarikan untuk terus menghasilkan keunggulan umat. Dalam sejarah, tokoh-tokoh muda Muhammadiyah telah berkontribusi besar dalam berbagai perjuangan, termasuk dukungan terhadap Palestina yang dimulai sejak awal abad ke-20 melalui Abdul Kahar Muzakir.
Pendidikan sebagai Pilar Karakter Bangsa
Menurut Hidayat, pentingnya pendidikan dalam membangun karakter bangsa tidak bisa diragukan. Hal ini juga diatur dalam konstitusi Indonesia melalui Pasal 31 ayat 3 dan 5 UUD 1945, yang menekankan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
“Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga yang berkarakter. Ini merupakan hasil dari perjuangan panjang selama reformasi untuk memastikan bahwa pendidikan di Indonesia seimbang antara kecerdasan dan moralitas,” jelasnya.
Keseimbangan antara Ilmu dan Iman
Hidayat menegaskan bahwa kecerdasan tanpa landasan iman dan akhlak dapat mengarahkan seseorang kepada kehilangan arah. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya pendidikan yang menerapkan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Semua ini, menurutnya, akan semakin terasa selama bulan Ramadan, yang memberi kesempatan bagi umat untuk merenungkan dan mengamalkan nilai-nilai tersebut.
Menjaga Tradisi Intelektual dan Semangat Tajdid
Dalam kesempatan tersebut, Hidayat mengajak civitas akademika UMJ untuk terus menjaga tradisi intelektual yang berlandaskan nilai-nilai Al-Quran. Dia juga menekankan perlunya semangat tajdid atau pembaruan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan zaman.
“Optimisme dan produktivitas umat harus terus ditingkatkan. Bahkan jika kiamat terjadi dan kita masih memiliki benih tanaman, maka tanamlah benih itu. Ini menandakan bahwa umat Islam tidak boleh pesimis, tetapi tetap berupaya berbuat kebaikan,” jelasnya.
Generasi Unggul untuk Indonesia Emas
Hidayat berharap agar UMJ dapat mencetak generasi yang unggul, yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan iman dan amal. Generasi ini diharapkan mampu menyongsong Indonesia Emas dengan semangat dan tindakan yang nyata.
“Kita perlu memastikan bahwa generasi yang dihasilkan bukan hanya siap menghadapi tantangan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang signifikan untuk kemajuan bangsa,” pungkas Hidayat.
➡️ Baca Juga: Cryptocurrency Jangka Panjang Memerlukan Disiplin yang Kuat, Bukan Sekadar Keberuntungan
➡️ Baca Juga: Raih Kesuksesan dengan Ide Bisnis Rumahan Sederhana yang Dapat Dijalankan Setiap Hari




